Senin, 29 Desember 2008

Pernikahan Selanjutnya



Wah satu lagi menikah...bahagianyaaaa....

Kamis, 04 Desember 2008

Sehat Berkat Lingkungan Bersih


Sjifa Amori - Reporter Junior - Senin, 07 Juli 2008 13:46:39 WIB
Wita Lestari - Redaktur - Rabu, 09 Juli 2008 15:45:24 WIB
Agus Setiawan - Layouter - Rabu, 09 Juli 2008 15:46:15 WIB

Keyword

:

Sehat Karena Lingkungan Bersih


Surabaya | Senin, 07 Juli 2008


Salah satu cara memelihara lingkungan untuk meningkatkan kualitas kesehatan adalah mengolah sampah menjadi kompos.


"ANDA Masuk Gang Kompos." Kata-kata yang tercetak di atas spanduk yang panjangnya tidak sampai 2 meter ini menyambut kedatangan Dewan Juri Anugrah Hijau Sampoerna Hijau Kotaku Hijau, pertengahan Juni lalu. Lingkungan di Kelurahan Karah dan Kelurahan Dukuh Pakis, Surabaya, ini bisa dibilang memberikan kesan dan pengalaman berbeda. Siapa pun yang masuk ke dalam gang ini pastinya tak kan menemui sampah tercecer. Belum lagi, nyaris setiap rumah punya pohon dan pot-pot tanaman hijau dan rimbun yang membuat pejalan kaki merasa lebih tenteram, meskipun kota Surabaya tengah disorot sinar terik matahari.

"Dua minggu sekali kami mengumpulkan sampah. Khususnya sampah rumah tangga. Sisa kora-kora (cuci piring) yang disimpan dalam wadah tertentu ini kemudian diproses secara alami oleh mikroba sehingga menjadi kompos," ujar seorang warga kepada Ketua Dewan Juri, Ahli Lansekap IPB, Prof Dr Hadi Susilo Arifin, MS, Dipl RLE. Di teras rumahnya, warga RW 5 Kelurahan Karah ini memiliki keranjang yang namanya Takakura. Sebuah penemuan dari Koji Takakura sebagai bagian dari kerja sama antara Kota Surabaya dan Kota Kitakyushu di Jepang.

Dengan Keranjang Takakura ini, warga mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik dipisahkan dari sampah lainnya dan dimasukkan ke dalam keranjang. Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Mudah-mudahan ini berkelanjutan, tidak hanya karena lomba lingkungan hidup saja.

Dalam www.geocities.com, sebuah literatur tentang pembuatan kompos dan permasalahannya, mengungkapkan, semakin banyak sampah yang dibuat kompos, diharapkan semakin sedikit pula masalah kesehatan lingkungan masyarakat yang timbul. Ini karena dalam proses pengomposan, panas yang dihasilkan dapat mencapai 600 C, Kondisi ini dapat memusnahkan mikroorganisme patogen yang terdapat dalam sampah.

Kegiatan pemilahan sampah merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya mengurangi timbunan sampah yang akan dibawa ke Tempat Pembuatan Akhir (TPA). Ini dilakukan dengan memasukkan sampah ke dalam 3 wadah berdasarkan jenisnya. Yaitu organik, seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan daun-daunan, yang bisa diolah menjadi kompos. Lalu sampah anorganik yang bermanfaat, seperti kertas bekas, plastik, gelas atau kaca, yang memiliki nilai ekonomis karena bisa didaur ulang. Dan adalah sampah anorganik tidak bermanfaat, seperti logam kecil, puntung rokok, yang kemudian ditampung, dikumpulkan, untuk kemudian diangkut oleh petugas kebersihan.

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatra Utara, Lina Tarigan, dalam Dampak Pencemaran Lingkungan Terhadap Kesehatan menggambarkan masyarakat yang sudah maju sosial budayanya dapat mengubah lingkungan hidup sampai taraf yang irreversible. "Perilaku masyarakat ini menentukan gaya hidup tersendiri yang akan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan yang diinginkannya atau bahkan mengakibatkan timbulnya penyakit sesuai dengan perilakunya. Dengan demikian, eratlah hubungan antara kesehatan dengan sumber daya sosial ekonomi," tulis Lina dengan menambahkan pernyataan WHO bahwa kesehatan adalah suatu keadaan sehat yang utuh secara fisik, mental dan sosial. Bukan hanya merupakan bebas dari penyakit.

Prof Dr Firman Lubis, MPH, dari Departemen Kedokteran Komunitas dan Keluarga mengungkapkan, "Lingkungan sehat yang dikatakan ideal harus memenuhi syarat ketersediaan air bersih, rumah sehat, pembuangan sampah dan kotoran memadai, dan juga pemberantasan vektor dan nyamuk."

Permasalahan yang mungkin muncul pada proses pengomposan mandiri ini, seperti ditulis di geocities.com, adalah masih terdapatnya organisme patogen atau parasit. Organisme patogen seperti virus, bakteria, protozoa, jamur yang dapat memengaruhi kesehatan manusia, hewan maupun tumbuhan kemungkinan masih terkandung dalam di kompos yang disebabkan oleh masalah teknis, seperti tidak tercapainya suhu yang mematikan organisme tersebut.

Permasalahan ini dapat dihindari dengan pengawasan mutu kompos pada setiap langkah produksinya, antara lain dengan pemantauan suhu setiap hari. Lalu juga masalah akibat vektor penyakit yang sering terdapat pada proses pengomposan. Yaitu lalat, tikus, dan kecoa. Lalat sering dijumpai pada bahan bakubaku dan pengangkutan residu yang teratur dan tepat waktu serta pemeliharaan sarana atau prasarana pengomposan yang memadai dapat menghindari gangguan vektor penyakit. kompos, yaitu sampah domestik yang tidak segar (berumur lebih dari dua hari) sedangkan tikus dan kecoa sangat menyukai tumpukan kompos yang tidak segera dikemas atau dipasarkan serta tumpukan residu yang tidak segera diangkut ke TPA. Pemasokan bahan

"Ide pengolahan kompos sudah sangat baik. Tapi dalam prosesnya, masyarakat harus menyiapkan proteksi diri. Gunakan sarung tangan, masker, dan cuci tangan dengan bersih setelah berurusan dengan sampah," ujar Lubis.

Sjifa Amori
syifamori@jurnas.com

Atlet Rawan Cedera Ligamen Lutut





Sjifa Amori - Reporter Junior - Jum'at, 12 September 2008 14:00:43 WIB
Wita Lestari - Redaktur - Senin, 15 September 2008 13:11:49 WIB
Triyono - Layouter - Senin, 15 September 2008 13:13:21 WIB

Keyword

:

Atlet Rawan Cedera Ligamen Lutut


Tak jarang atlet mengalami cedera serius, yang tersering adalah cedera ligamen lutut.


KETIKA pelari gawang andalan China peraih emas Olimpiade Athena 2005, Liu Xiang, mengalami cedera pada tendon achilles (bagian belakang tungkai bawah) saat bertanding di Stadion Bird's Nest di Beijing Agustus lalu, seluruh China ikut bersedih. Atlet berusia 25 tahun mantan pemegang rekor dunia di nomor lari gawang 110 m ini adalah harapan terbesar China untuk merebut medali emas dari atletik.

Itu hanyalah salah satu contoh risiko buruk yang dialami atlet. Bukan hanya prestasi, cedera yang parah saat berlatih dan bertanding bahkan juga bisa mengakhiri profesi sang atlet itu sendiri.

Ada cedera lain yang rawan dialami atlet, yaitu cedera pada lutut. Biasanya ini terjadi pada atlet cabang olahraga high-impact, seperti sepak bola, basket, futsal atau bulu tangkis. Karena, dalam olahraga jenis ini banyak gerakan mendadak yang berubah arah. Misalnya, berlari lalu tiba-tiba berhenti dan berganti arah. Atau juga melompat dan secara mendadak berubah arah.

"Dalam olahraga di mana atlet memberi tekanan berlebih pada lutut ditambah penghentian dan perpindahan arah tiba-tiba, anterior cruciate ligament memainkan peranan penting," kata ahli bedah Andre Pontoh pada media edukasi "Jenis Gangguan Sendi Lutut dan Terapi Penanggulangan Terkini" di Rumah Sakit Pondok Indah, awal Agustus lalu.

Ligamen cruciate menghubungkan tulang betis ke tulang paha. Ligamen tersebut terdiri atas beberapa fibre yang berfungsi mengikat sendi lutut dengan kuat ketika sendi lutut melurus dan membengkok. Kata "cruciate" berasal dari crux, yang artinya menyilang. Ligamen cruciate yang terletak di bagian depan lutut adalah anterior cruciate ligament (ACL) dan yang terletak di belakang lutut disebut posterior cruciate ligament (PCL).

Dengan struktur seperti itu, ACL berfungsi menjaga supaya tibia (tulang kering) tidak meleset melewati lutut. Dan juga berfungsi untuk menstabilkan lutut ketika berotasi. Namun, olahraga high-impact ini sering menyebabkan tekanan karena tungkai bagian bawah secara mendadak dilambatkan sementara bagian lutut justru dipaksa bergerak cepat. Atau tekanan pada lutut karena tibia sering dipaksa berotasi.

Kalau ligamen tidak bisa menolerir lagi gerakan yang memberatkan ini, dia akan kehilangan daya ikatnya terhadap tulang. Akibatnya, kedua tulang (tulang paha dan betis) tidak lagi tersambung karena ACL putus. Inilah yang sering disebut sebagai cedera ligamen.

"Kalau atlet mengalami cedera ini, saat itu juga atlet akan merasakan kesakitan luar biasa yang membuatnya langsung terjatuh. Dan akan terdengar juga bunyi "pop" yang cukup keras. Kemudian bagian lutut langsung akan membengkak," kata Pontoh dalam presentasinya, Cedera Sport dada Lutut.

Cedera ligamen ini bisa terjadi akibat tekanan yang lebih besar daripada kekuatan alaminya. Sehingga, ligamen mengalami robekan. Latihan penguatan bisa membantu mengurangi risiko terjadinya cedera ligamen. Satu-satunya cara untuk memperkuatnya adalah berlatih ketahanan, yang secara bertahap akan menambah kekuatan ligamen. Makanya, olahraga semacam ini sangat tidak disarankan buat orang yang sehari-harinya lebih banyak duduk di kantor. "Lebih baik melakukan olahraga lain yang tidak terlalu memberikan tekanan pada ligamen, seperti berenang, bersepeda, lari dan jalan kaki," kata Pontoh.

Selain itu, pada setiap olahraga juga perlu ada pemanasan, olahraga inti, dan pendinginan. Dan juga pemilihan olahraga yang tepat, yaitu sesuai berat badan. "Olahraga high-impact tidak disarankan bagi orang yang obesitas. Karena obesitas berisiko lebih besar mengalami cedera lutut, seperti (cedera) ligamen ini," ujar Pontoh.

Tak Sembuh Diurut

KETIKA cedera ligamen terjadi pada orang awam, seringnya dikira keseleo biasa. Karenanya pengobatannya juga seadanya. Misalnya diurut dengan minyak pijat atau minum obat tertentu. Padahal, menurut Orthopaedic Surgeon Dr Andre Pontoh, tak ada cara lain untuk memperbaiki ligamen yang sudah telanjur robek, selain hanya dengan operasi yang dinamakan rekonstruksi anterior cruciate ligament (ACL).

"Nggak bisa diurut atau pakai obat. Hanya operasi menanam kembali urat dari luar lutut sampai ke dalam lutut," kata peraih Victor Chang Fellowship Awards, Australia, tahun 2000 ini saat menjadi pembicara pada media edukasi "Jenis Gangguan Sendi Lutut dan Terapi Penanggulangan Terkini" di RS Pondok Indah, Jakarta, pertengahan Agustus lalu.

Menurutnya, cedera ligamen juga tak mempan di X-Ray. Karena tidak akan memperlihatkan apa-apa. Dengan X-Ray, lutut akan terlihat normal. Padahal, tak lama kemudian akan makin hebat sakitnya. Dan lama-lama menjadi pincang. "Seperti ada yang bergerak-gerak di dalam lutut. Sama juga dengan cedera meniscus. Dan Ini harus dijahit. Jadi, kalau sudah cedera seperti ini, yang diperlukan adalah pemeriksaan dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI)," ujar Pontoh.

Ligamen adalah urat utama yang menjaga stabilitas lutut untuk tidak terlalu terganggu saat melakukan gerakan dalam olahraga high-impact seperti gulat, tenis, senam, ski, hoki, atau rugby. Karenanya, bentuk dari rekonstruksi ACL sendiri, menurut Pontoh, adalah dengan menanam urat baru dari luar ke dalam lutut. Di luar negeri, urat bisa didapatkan dari mayat. Tetapi, di Indonesia, urat didapatkan dari urat pangkal paha belakang orang itu sendiri.

Namun, Pontoh adalah satu-satunya dokter di Indonesia yang sudah bisa melakukan rekonstruksi ligamen dengan teknik double bundle. "Karena sejak bayi, ACL itu sebenarnya ada dua. Hanya yang satu lebih kecil. Jadi, kalau rekonstruksinya hanya satu kurang maksimal. Kalau dua-duanya, lutut akan menjadi sangat stabil," kata ahli bedah ini sambil menekankan bahwa tidak ada jaminan ligamen tak akan robek kembali saat berolahraga pascarekonstruksi. Karena, yang terbaik tetap saja adalah ligamen yang diciptakan Tuhan.

Dan ACL akan tetap bisa robek jika gerakannya memang berisiko untuk itu. Yaitu mengubah arah dan berhenti tiba-tiba, melambatkan gerakan mendadak di tengah-tengah lari cepat, mendarat dari lompatan yang tinggi, dan kontak langsung, seperti saling menekel antarpemain sepak bola.

Intinya, tidak mungkin melindungi lutut secara menyeluruh untuk mencegah cedera ACL. Jika harus berolahraga high-impact, penguatan dan program-program yang sesuai adalah yang terbaik. Sebelum cedera terjadi, ada baiknya bertanya pada dokter, fisioterapis, atau pelatih untuk mengetahui teknik olahraga yang aman dan minim risiko cedera.

Sjifa Amori
syifamori@jurnas.com

Palembang Selalu Berjaya



Ini khusus guwa post buat kekasih hati:

jakarta | Jum'at, 18 Juli 2008 Posisi Layout: Naskah 1 (HL) (11794 char)
Sjifa Amori - Reporter Junior - Jum'at, 18 Juli 2008 10:49:02 WIB
Arie MP Tamba - Assisten Redaktur Pelaksana - Jum'at, 18 Juli 2008 12:32:53 WIB
Agus Setiawan - Layouter - Jum'at, 18 Juli 2008 13:22:02 WIB
Keyword : Palembang Selalu Mau Berjaya


Kilasan kemegahan masa lalu jadi latar adat istiadat Palembang. Akulturasi budaya yang dinamis memperkaya corak sosialnya.


Kalau ada daerah yang berkepribadian maritim meski letaknya tidak tepat di pesisir, itu adalah Palembang. Sampai produk makanannya pun banyak yang dibuat dari bahan ikan. Meskipun tak mesti ikan laut seperti tenggiri, tapi juga ikan sungai macam ikan patin dan belida. Sampai pempek kulit ikan pun ada di daerah yang kaya ragam makanan ini.
Walaupun tidak berada di tepi laut, namun Palembang mampu dijangkau oleh kapal-kapal dari luar negeri. Dalam situs ensiklopedia yang dituliskan Infokito, dikatakan bahwa sungai Musi masih menjadi alternatif jalur transportasi ke daerah tertentu dan untuk kepentingan tertentu. Beberapa industri yang ada di sepanjang aliran sungai Musi juga memanfaatkan keberadaan sungai Musi ini.
Meski air kini tak identik lagi dengan sendi-sendi kehidupan masyarakat Palembang, tetaplah sulit membayangkan kota ini tanpa menyertakan sungai kebanggaan mereka, Musi. Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi dua kawasan: Seberang Ilir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Ini mau tak mau memberi corak yang kental pada karakter masyarakatnya. Sampai-sampai mengingatkan orang-orang Eropa akan kota air legendaris, Venezia, di Italia. Dijulukilah ia kemudian dengan Venesia Of the East.
Budaya air
"Air tak lagi dijadikan pusat kehidupan orang Palembang," kata budayawan Djohan Hanafiah. Padahal, menurut budayawan dan sejarawan asli Palembang ini, orang Palembang adalah manusia-manusia air. Ia menyatakan bahwa ada seorang ahli Biologi dari Inggris melihat denyut kehidupan Wong Palembang sampai dengan tahun 1800-an memang menyatu dengan air. "Jangan berharap bisa melihat orang Palembang berjalan di atas kakinya selama masih ada air dan perahu."
Sebegitu besar dampak modernisasi dan kebutuhan Palembang untuk memajukan daerahnya, daerah ini pun perlahan mengubah denyut nadinya menjadi seperti kota-kota metropolis lainnya. "Tapi sifat-sifat air yang mengalir ini tetap tergambar dalam gerakan tari Gending Sriwijaya," kata pengamat seni tari lokal Daru Purwanto pada Jurnal Nasional, Rabu (16/7).
Tak heran kalau jika dilihat sekilas tanpa dimengerti makna dan hakikat gerakannya, tari Gending Sriwijaya yang tersohor ini bisa dianggap monoton. "Karena dia mengalir menggunakan rasa, bukan ketukan. Hanya yang bisa menari dengan rasa yang bisa menampilkan pertunjukan tari yang memberi kesan mendalam."
Dan gerakannya juga bukan asal gemulai. Menerapkannya teramat sulit. Hal ini diakui penari profesional yang pernah dapat penghargaan dari pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sebagai Seniman Tari pada 2002, Elly Rudy. "Ada pakem-pakem yang harus diikuti dalam tari Gending Sriwijaya. Apalagi sampai saat ini tari Gending Sriwijaya masih diyakini dan dipakai umat Buddha di Palembang sebagai bagian ritual. Makanya ada sikap Mudra yang, merupakan gerakan sembahyang. Yaitu sikap mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa."
Situs wihara.com mendeskripsikan Mudra sebagai gerakan tangan dengan pola tertentu yang merupakan bahasa tangan dan pembacaan mantra. Tak heran kalau dalam upacara Waisak di Bukit Siguntang, tari Gending Sriwijaya masih dipakai. Konon pada zaman Kerajaan Sriwijaya, di Bukit Siguntang pernah bermukim sekitar 1.000 pendeta Buddha dan hingga kini jadi tempat suci di mana terdapat makam-makam keturunan raja Palembang. Sementara tari Gending Srwijaya sendiri juga bercerita tentang kejayaan Buddha di masa Sriwijaya.
Selain jadi jejak asal muasal umat Buddha di Palembang, tari Gending Srwijaya juga memberikan petunjuk mengenai hubungan persaudaraan dan mungkin juga dagang dengan beberapa besannya, semisal China dan Thailand. "Ketika saya ke Thailand mementasakan Gending Sriwijaya dalam rangka misi kesenian, kita melihat banyaknya kemiripan sikap tari Gending Sriwijaya dengan tari-tarian tradisional Thailand. Dan cuma tari tradisional Sumatera Selatan dan Thailand saja yang dalam tariannya menggunakan tanggai, sejenis aksesori kuku yang memanjang.
Sedangkan kostum tari yang menggunakan kain serta pakaian gelamour dengan warna merah dan emas menyala, menurut Elly karena ada hubungannya dengan kekuasaan China di Palembang. "Kita ini kan pecahan Majapahit kemudian jadi Sriwijaya, makanya judul tariannya juga Gending. Tapi kalau pakaian yang mewah itu karena identik dengan glamour merahnya China. Tentang China pun ada memori tersendiri. Mengenai misteri Pulau Kemarau, yaitu perkawinan puteri bangsawan Palembang dan anak Raja China. Itu kan saksi bahwa kita dan China pernah besanan."
Djohan, yang pernah menggali dokumen sejarah mengenai Palembang dan Sumatera Selatan dari Universitas Leiden dan KITLV (Royal Institute of Linguistic and Anthropology) Belanda juga membenarkan bahwa di Palembang, antara kekuasaan Sriwijaya dan Kesultanan Darussalam, sempat ada kekuasaan China. Periodenya sekitar 200 tahun. Meski tak dominan, menurut Djohan, tetap ada pengaruh China pada pergaulan dan perdagangan.
Tarian sebagai jejak
Ini semakin menunjukkan kuatnya tarian sebagai bentuk ekspresi kultural yang kini makin digali oleh kalangan akademik dan organisasi publik. Bahkan UNESCO's Intangible Heritage Program menganggap tari tradisional sebagai sumber paling utama dari identitas yang berakar dalam pada masa lalu. Tarian tradisional yang dilakukan dengan dasar sosial, theatrical, atau ritual, merupakan bentuk ekspresi kultural. Seperti seni visual, ukir, atau arsitektur, tarian tradisional merupakan sisa dari kumpulan, kekuatan, dan bentuk penyebaran nilai-nilai tradisi. Hal ini diungkapkan Sangita Shresthova dalam tulisannya What is Endangered Dance? di situs coreoculture.com milik Core Culture, Chicago.
Menurut penulis tersebut, seringnya tari dimaknai sebagai gerakan yang unik dan artistik. Pada saat yang sama, sebenarnya ia punya makna lebih dalam yang bahkan bisa menggambarkan adanya jejaring yang saling berhubungan antara tarian tradisional satu daerah dan tarian tradisional daerah lainnya. Atau bahkan juga keterkaitan dengan cara atau olah gerak tubuh non-tarian suatu tradisi. Seperti misalnya Mudra.
Baru dari satu jenis tari saja, Wong Palembang sudah bisa tahu leluhurnya besanan dengan orang China dan Thailand. Padahal masih ada Tari Lilin Siwa yang menggambarkan bahwa di Sumatera Selatan ada orang Hindu. Dan juga tari Bedana yang bernafaskan Islam dengan karakteristik serupa tapi tak sama dengan Tari Zapin Melayu. Karena berasal dari satu rumpun.
Sebegitu besar peluang pencarian identitas dalam kesenian tari Palembang. Begitupun, tari, kata Elly, masih sedikit sekali digeluti seniman di Palembang. Masih kurang orang dan peminat. Karena sudah lebih banyak orang di daerah asal pempek ini lebih ingin jadi dokter. "Ngapoi nak nari, nak ngapoi kau cek itu? Mendeng jadi dokter bae, insinyur bae," ujar Elly menirukan nasihat orangtua. Inilah kenapa sampai saat ini perjuangan Elly untuk mengangkat Tari Bedana ke tingkat nasional belum menemukan titik terang. "Padahal tak hanya Gending Sriwijaya yang bagus. Masih banyak tari tradisi lainnya yang bisa dijual. Termasuk Bedana. Itu hanya masalah publikasi saja."
Pergeseran memang ada. Dari wilayah di mana penduduk dekat dengan air menjadi warga kota besar pada umumnya. Dari penari-penari tradisi yang menjiwai makna dan sejarah tariannya menjadi pelaku industri yang menjual seni tari. "Sekarang penarinya makin banyak, tapi sedikit yang berkualitas dan menari dengan perasaan. Karena hitungannya bukan lagi latihan dan penjiwaan, tapi sudah job pentas," kata Daru yang juga seorang koreografer tari yang beberapa kali mewakili Sumatera Selatan pentas di luar daerah.
Kehadiran agama Islam yang sempat mendominasi menguatkan proses akulturasi dan asimilasi. Ada Jawa, melayu, China, dan banyak lagi. "Belum lagi masa itu kemudian tergantikan masa penjajahan lalu kemerdekaan. Di mana paham egalitarian dan nasionalisme begitu kuat pada bangsa ini di era itu. Meninggalkan sisa ingatan akan kejayaan Sriwijaya di masa lalu hanya sebagai nama-nama besar yang ditaruh di universitas atau stadion," kata Djohan yang menulis puluhan buku sejarah saat dihubungi usai seminar, Rabu (16/7).
Taufik Wijaya, seniman kenamaan Palembang, pernah menulis bahwa keberadaan Indonesia, ternyata membuat sejumlah masyarakat menjadi cemas. Modernisme yang diusung, ternyata, secara tidak sadar, telah menghabiskan atau mengikis nilai-nilai baik yang terbangun di masa lampau. Misalnya, persoalan etika, dan moral. Romantisme pun muncul. Gerakan kembali ke masa lalu, merebak di Palembang pada akhir tahun 1990-an. Kesadaran ini pun tidak lepas dari pemikiran postmodernisme yang berkembang di Barat. Sebuah pemikiran yang mengkritik habis proyek modernisme. Salah satu pencarian identitas kaum posmo, yakni kembali kepada nilai-nilai masa lampau, yang belum dirusak modernisme. Sadar atau tidak, pendeklarasian Raden Mas Syafei Prabu Diraja sebagai Sultan Mahmud Badaruddin III oleh sekelompok wong Palembang, bagian dari dampak pemikiran postmodernisme tersebut.
Merespons globalisasi
"Kalau itu lebih berat ke kepentingan penampilan diri daripada mempertahankana atau memeklihara tradisi. Pembuktian identitas dengan memberi gelar macam-macam adalah reaksi yang tidak positif atas globalisasi. Apalagi kalau yang mengangkat Sultan adalah orang-orang yang tidak mengerti dengan hal yang dia buat. Malah hanya akan merusak tatanan," kata Djohan.
Baginya, melihat fenomena ini, adalah bentuk pemujaan atas masa lalu yang berlebihan. Ciri khas orang Indonesia dari suku mana pun. Ingat terus tentang kejayaan Majapahit dan Sriwijaya. Tapi tak sempat memikirkan keadaannya sendiri saat ini dan mau apa untuk nanti. Akan jadi apa Indonesia, dan Palembang, pada tahun 2500 nanti.
Djohan tak mengingkari adanya pengikisan nilai-nilai tradisi lama digantikan dengan yang lebih termodifikasi. Tapi tak hilang. "Kita masih sangat ketat dalam adat perkawinan. Meski tak semua tata cara adat lengkap dilakukan, tapi inti-inti upacara tradisinya masih tetap ada."
"Begitu juga hubungan kekeluargaan diantara kita masih sangat dekat. Walaupun garisnya tak sejauh dulu. Sebatas sepupu dan dan besan." Tapi siapa yang tak cari saudara di tanah perantauan. Makanya orang Palembang punya ungkapan Wong Kito Galo (orang kita semua). Sesama Palembang berarti bersaudara. Dan sebagai karakter perorangan, meski pengguna bebaso alus (kromon inggil) sudah terbatas sekali, sopan santun yang jadi identitas orang Palembang takkan bisa hilang. "Kalau ditawari makan, biasanya orang Palembang menolak dan mengatakan sudah kenyang, padahal kelaparan. Kalau mau pamit, orang Palembang suka bilang ada kesibukan lain atau ada kerjaan. Padahal nganggur. Seperti orang jawa saja, ada basa basinya," kata Djohan sambil sedikit banyak menggambarkan interaksi unggah ungguh (tata krama) antar manusia Palembang.Ini memperlihatkan dia punya harga diri. Dan ciri identitas ini tak bisa dihilangkan, meski oleh modernisasi.
Yang pasti faktor masa lalu yang megah berperan pada karakteristik kepribadian orang Palembang yang dianggap punya "sikap". "Dari songketnya saja kita bisa lihat bahwa dia punya produk kebudayaan yang menunjukkan tingkat peradabannya. Kerajinannya selalu mahal. Macam kue juga paling banyak. Hidangan pagi, siang, sore, malam semua berbeda. Itu memperlihatakan orang yang pernah mengalami masa gemilang sehingga semuanya mewah." Begitu juga perhiasan dalam tari-tariannya yang dulu banyak terbuat dari emas.

Rabu, 24 September 2008

Budi Darma


Kode buku : B01BDAR01

Judul : Laki-laki Lain dalam Secarik Surat

Pengarang : Budi Darma

Penerbit : Bentang Pustaka

Halaman : 270

Harga took : Rp. 43,000 ( diskon 15.00 % ) : : Rp. 36,550 : :

Kategori : -

Buku ini merupakan perwujudan dari obsesi kepengarangan Budi Darma. Di dalamnya akan ditemukan kisah-kisah tentang manusia lengkap dengan konflik mereka saat berinteraksi dengan dunia di sekelilingnya maupun dengan dirinya sendiri.

Tokoh-tokoh Budi Darma dalam buku ini adalah manusia yang ganjil, terkadang keji, dan cenderung asosial. Namun, di sisi lain, mereka juga bisa menjadi begitu naif, baik hati, dan jujur. Dengan gaya bertuturnya yang lembut, tapi penuh kejutan, Budi Darma akan membawa kita ke dalam permenungan mendalam tentang manusia dan kemanusiaan.

Endorse kover depan:

"Budi Darma bukan saja piawai mengupas teori tetapi juga lincah mengocok kata-kata."

Kompas, 18 Februari 2008

TENTANG PENULIS
Budi Darma saat ini menjadi Professor Emiritus di Universitas Negeri Surabaya, tempatnya pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, serta Rektor. Budi Darma merupakan pelopor penulisan prosa modern di Indonesia. Menulis cerpen, novel, esai, dan berbagai tulisan akademik. Karya-karyanya antara lain Olenka (novel) dan Orang-Orang Bloomington (kumpulan cerpen). Penghargaan yang pernah diterima antara lain Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1984), SEA-Write Award (1984), Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993), dan Satya Lencana Kebudayaan Presiden Republik Indonesia (2003).

"Budi Darma dikenal piawai menjungkirbalikkan tokoh-tokohnya
Tulisan Budi Darma selalu bermain-main dengan pisau bermata dua

"Budi Darma bukan saja piawai mengupas teori tetapi juga lincah mengocok kata-kata."
Kompas, 18 Februari 2008

"Tokoh-tokoh fiksinya berhasil mewakili kepiawaian pengarang ...."
Sjifa Amori, dalam Jurnal Nasional 10 Feb 2008

"Gaya kepenulisan Budi Darma itu manifestasi dari pencapaian? intelektualisme."
Beni Setia, dalam Padang Ekspres 15 Juni 2008

"Bukan tubuh daging tokoh yang penting, tetapi wataklah yang lebih utama."
Agus Noor, dalam Kompas 24 September 2006

Suatu Hari Bersama Syifa...Cieee guwaaa..


Tengkew ya Dananjoyo yg baikhati dan selalu menemaniku liputan museum dari ujung ke ujung. Ikutkan juga dong suatu hari suatu hari bersama Syifa yang lainnya ke ajang2 lomba sebangsanya. Pasti menang...pan modelnya guwaaa...

DAFTAR PEMENANG LOMBA FOTO BANK INDONESIA TAHUN 2008

Dengan ini diumumkan hasil penjurian Lomba Foto Bank Indonesia tahun 2008 pada hari Sabtu, 30 Agustus 2008 bertempat di Museum Bank Indonesia Jl. Pintu Besar Utara No.3 Jakarta Barat sebagai berikut:

Tema Museum Bank Indonesia
Dewan Juri:
1. Moses Agustian
2. Lioe Tjin Fa
3. Mukri Sulaiman

TEMA MUSEUM BANK INDONESIA

Judul Foto

Pemenang

Fotografer

Alamat

Tetap Tegap

Juara I

Hendro Heryanto

Jakarta

Menilik Koleksi Koin

Juara II

Safir Makki

Bekasi

Lorongnya pun sangat indah

Juara III

Gunawan Rustandi

Jakarta

Judul Foto

Pemenang

Fotografer

Alamat

Rekreasi Keluarga

Juara Harapan

Afriadi Hikmal

Jakarta

Menyimak Sejarah

Juara Harapan

Afriadi Hikmal

Jakarta

Try to Learn

Juara Harapan

Antonyus Bunjamin

Jakarta

Suatu hari bersama Syifa

Juara Harapan

Dananjoyo Kusumo

Jakarta

Museum In Frame

Juara Harapan

Dwi Nugroho Yoga M.

Jakarta

Selasar MBI

Juara Harapan

Fadhil Nugroho

Jakarta

Menyusuri Kenangan

Juara Harapan

Fadhil Nugroho

Jakarta

We love money…

Juara Harapan

Muradi

Jakarta

Bermain dan Belajar

Juara Harapan

Sakti Arif Wicaksono

Banjarmasin

Bingkai Arsitektur

Juara Harapan

Tan Rahardian

Jakarta


Selasa, 23 September 2008

Orisinalitas ala Bang Ben



jakarta | Kamis, 03 Juli 2008
Sjifa Amori - Reporter Junior - Kamis, 03 Juli 2008 10:24:05 WIB
Arie MP Tamba - Assisten Redaktur Pelaksana - Kamis, 03 Juli 2008 12:23:00 WIB
Agus Setiawan - Layouter - Sabtu, 05 Juli 2008 09:40:26 WIB




Ketika arus westernisasi mulai deras memasuki Indonesia, Benyamin malah nongol dengan identitas Betawinya yang norak.

Di tengah paras-paras nyaris sempurna yang menghiasi pesawat televisi, ada wajah pas-pasan, cenderung kampungan, yang paling menarik perhatian. Memang bukan semuanya pujian, malah lebih banyak yang menghina. Tapi mereka toh tetap jadi pusat perhatian. Hal ini dialami Ratmi B-29.

Dengan tubuh "bulat" dan gaya tukang jamunya, Ratmi mau bersaing dengan beberapa kandidat ratu kecantikan lain yang dibalut busana khas asing. Mulai dari kimono sampai kostum tari perut ala Timur Tengah. Meski ciut, Ratmi pasang muka tembok. Pacar Beni (Benyamin S.) ini sibuk melenggok di atas panggung sambil menggendong dan menjajakan jamunya pada para juri.

"Pakaian apa, tuh? butut," cerca salah satu kontestan yang tidak bisa menerima 'perbedaan' Ratmi.

"Ah, biar begitu juga orisinal, ciri khas kepribadian nasional. Tidak seperti kalian, imitasi," seru Beni menanggapi komentar sinis peserta dan penonton yang iri.

Itulah sedikit gambaran adegan dalam salah satu film drama komedi yang dibintangi seniman legendaris Benyamin Sueb, Ratu Amplop. Dalam situs katalog Film Indonesia, dikatakan bahwa Ratu Amplop dirangkai sebagaimana film banyolan. Tapi tak bisa dipungkiri, dialog yang diungkapkan Benyamin tentang orisinalitas mewakili banyak hal. Termasuk keberadaannya dalam perfilman dan dunia kesenian Indonesia pada umumnya.

Muke, gaye

Pada awal popularitasnya, Benyamin Sueb identik dengan muke, gaye, sampe kelakuan udik. Tapi kampungannya Benyamin itulah yang justru membuka banyak mata tentang bentuk baru sebuah aksi yang bisa sangat menghibur. Yang umumnya melekat pada kepribadian orang Betawi.

"Karakterisitik kutur Betawi adalah penghibur. Minimal buat dirinya sendiri. Karakter mereka tidak terikat. Dalam artian sangat terbuka. Sehingga kekayaannya melebihi keaslian budaya yang ada. Makanya saya selalu bilang masyarakat Betawi adalah campuran dari sekian banyak masyarakat. Ini adalah aset kekayaan kultur Betawi. Sehingga secara bahasa pun, Betawi diterima secara nasional. Banyak orang Aceh atau orang Papua yang sekarang ngomongnya elu gue," kata Rano Karno saat dimintai komentar mengenai Benyamin.

Banyolan Benyamin dalam film dan lagu memang tak bisa langsung dimengerti. Khususnya idiom yang memang asli keluar dari mulut Benyamin. "Tapi orang pasti ketawa saja lihat tingkah polahnya," kata Ida Royani. Sehingga judul filmnya pun tak pernah biasa-biasa saja. Walaupun aneh dan terkesan 'semaunya', Betty Bencong Slebor, Honey Money and Jakarta Fair, Koboi Insyaf, sampai Biang Kerok masih jadi judul film yang akrab didengar telinga. Meski tak semua pernah nonton.

Bagaimanapun juga, Benyamin berusaha menampilkan yang terbaik dari apa yang dia punya. Kalau memang dia norak, maka Benyamin telah sangat kreatif memenej kenorakannya jadi tontonan yang 'berbeda' dan menarik di zamannya , bahkan hingga saat ini. Sampai-sampai, diadaptasi lagi oleh banyak seniman Betawi yang kini jadi bintang televisi.

Terkait orisinalitas, sekali pernah Putu Wijaya menyampaikan konsepnya. Bahwa segala yang dibangun dari keadaan diri apa adanya bisa jadi nilai lebih jika diolah dengan maksimal. "Buat apa kita tampil dengan pertunjukan yang didukung teknologi tinggi kalau jelas-jelas teknologi kita tidak ada apa-apanya dibanding negara maju, seperti Jepang atau negara Barat lainnya. Lebih baik memanfaatkan apa yang ada dan menghasilkan sesuatu yang belum pernah dibuat orang lain," kata Putu sebelum berangkat ke Praha beberapa waktu lalu. Ia lalu menambahkan, "Di antara dua orang gadis yang tinggi semampai, tentu gadis yang paling pendek akan jadi perhatian karena paling berbeda."

Maka jadilah Bang Ben sebagai komoditi yang laku dijual di pasaran. Seperti ditulis Ida Arimurti dalam www.mail-archive.com/idakrisnashow@yahoogroups.com. "Nama Benyamin S juga jadi jaminan pasar untuk produksi film-film komedi, di antaranya berjudul Benyamin Biang Kerok, Benyamin Tukang Ngibul, Benyamin Tarzan Kota, Benyamin Raja Lenong dan sebagainya."

Biang kerok menyenangkan

Dan memang, Rano Karno juga bilang, film Benyamin selalu box office, walaupun secara mutu bisa diperdebatkan. "Filmnya ya begitu. Kayak lagunya. Seperti bercanda aja, kan? Judul lagu aja Kompor Mledug. Artinya kalau nonton Benyamin, ya jangan bayangkan akting Al Pacino. Dalam film, dia memang tidak sepopuler bintang film lain, tapi siapa sihnggak senang nonton Benyamin Biang Kerok sampai sekarang."

Bukan berarti Benyamin ngetop mendadak. Proses supaya karya Benyamin disukai dan dihargai oleh masyarakat nasional butuh waktu lama. Tak mudah merintisnya. Terlebih muatan yang dibawa Benyamin kala itu masih dianggap kampungan.

"Ya iyalah nggak mudah. Saya melihat Benyamin benar-benar berjuang dari bawah mengangkat budaya Betawi. Sebelum dengan saya, dia kan sudah nyanyi lagu Betawi dengan artis lain. Ketika saya duet dengan dia, Benyamin dan kebetawiannya mulai mencuat. Tapi jangan salah, awal saya duet tahun 70-an, saya sempat dikatain orang. Banyak yang nanya, kenapa saya mau nyanyi sama dia, kampungan, norak," cerita Ida yang memilih duet dengan Benyamin di saat karier musiknya telah mencitrakan dirinya sebagai gadis remaja yang fancy dan trendy.

Makanya Ida kemudian curhat pada Benyamin. "Ben, gue bukannya nggak kenape-nape ya nyanyi sama elu. Gue makan ati tiap ari dikatain kampungan. Saat itulah dia jawab, biarin dah orang bilang muke gue kampungan. Yang penting rejeki kotaan," kata Ida mengenang masa lalunya. Jadi kalau sekarang ada istilah kesohor yang dilontarkan Benyamin: "muke kampung rejeki kota", itu karena Benyamin dicurhati Ida.

Tapi karena sudah biasa dikelilingi teman dan keluarga Betawi, Ida yang tidak mengalami kesulitan menyanyikan lagu Betawi ini tetap asyik rekaman. Apalagi album Ondel-ondel juga laku keras. "Akhirnya, orang yang tadinya meledek saya sampai suka dan membeli kasetnya.'

Karena begitu kentalnya keaslian dan spesifikasi penampilan Benyamin dalam berkesenian, baik musik maupun peran, Rano Karno maklum kalau Benyamin dilirik Syumanjaya. "Benyamin menang Piala Citra 1975 dalam film Si Doel Anak Modern karya Syumanjaya dan main di film Pinangan. Itu artinya seorang sutradara besar Syumanjaya memang melihat potensi besar Benyamin."

Gerbang budaya Betawi

Bisa dikatakan, keberadaan Benyamin dalam film membuka gerbang bagi budaya Betawi naik ke tataran nasional. Hingga kini, serial Betawi di televisi sudah diterima sebagai tontonan budaya yang menghibur. Malah, kata Ida, sekarang kalau nggak ngomong elu-gue, ya nggak gaul.

Benyamin memberi kontribusi besar terhadap budaya asli Betawi dan juga pada identitas Indonesia secara keseluruhan. Bahwa yang orisinal itu yang pas buat masyarakat. Nggaksok bule. Meski bukan berarti tidak terbuka pada budaya asing. Justru orang Betawi, seperti juga Benyamin sangat terbuka. Benyamin jelas mengenyam pendidikan. Bahkan sampai tingkat akademi, meski tidak tamat. Dan dia pun mampu berbahasa Inggris. Karena bangga akan budayanya sendiri, lagu-lagu berlirik Inggris pun dia ciptakan dengan gaya Betawi. perlu

Superman

Do you know who am I?

I am the Superman, babe

I don't like capcay but I like permen only

Flying to the sky, looking for layangan putus

I don't like petai bau sih,

but I like asinan seger

When I fall into comberan

My face rotten and blepotan,

But when I nyangsang di tiang jemuran

Never mind because I can gelantungan

When I fly to all over the world

I met Flash Gordon and Gatot Kaca

But when look down to the earth

I saw many tukang becak

Lirik Superman memperlihatkan Benyamin, sebagai seorang seniman dan sebagai orang Betawi tetap up to date. Arus informasi dari luar daerah dan negaranya "ditelan" dengan bijaksana, tidak bulat-bulat. "Dia pintar. Dia memanfaatkan kebetawiannya untuk menampilkan kepandaiannya hingga menjadi karya seni tersendiri. Kalau logat bahasa Inggrisnya dibuat konyol, itu sebenarnya karena dia sengaja. Dia cukup jago berbahasa Inggris," tambah Ida.

Dan kalau Benyamin akhirnya sukses buka usaha, perusahaan film, radio, itu bukan karena dia pintar menghibur semata. "Benyamin sadar bahwa manajemen itu penting bagi seorang artis. Sementara seniman lain mengira manajemen hanya masalah uang, Benyamin yang pandai dengan karakter Betawinya sangat welcome menerima ilmu, saran, dan budaya lainnya. Ini dia manfaatkan dengan talenta dagangnya," kata Rano menggambarkan keterbukaan Benyamin sebagai sosok yang mau belajar dari orang lain. Contohnya adalah jiwa besar Benyamin ketika mau diatur Rano yang menyutradarai sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

"Dia luar biasa. Banyak memberi isnpirasi dan konsep cerita dalam Si Doel. Sampai-sampai idiom dari dia yang tak ada dalam skenario jadi idiom nasional, Tukang Insinyur," tutur Rano sambil tertawa.

Jadi jangan heran kalau Benyamin masih jadi patokan profil seniman Betawi. Jangan heran pula kalau honor Benyamin, menurut Rano, belum ada yang menyamai. Karena Benyamin lahir pada zamannya. Mengangkat unsur kebetawian hingga begitu dekat dengan masyarakat Indonesia umumnya.



Sjifa Amori
syifamori@jurnas.com

Jumat, 12 September 2008

Kekuasaan Dan Cinta di Dalam Forbidden City



Bagi yang suka film kolosal sejarah China, berkunjung ke Forbidden City pasti memberikan kesan lebih mendalam.

Tak sekedar menyaksikan situs warisan dunia, seperti yang diresmikan UNESCO, saya langsung teringat adegan dimana puluhan ribu prajurit istana berbaris sigap dan hormat menyambut kaisar dan para jenderalnya. Dimana dibalik setiap gerbang ada gerbang lagi seolah tak ada akhirnya. Dan memang Forbidden City sudah dipakai untuk syuting film The Last Emperor yang menceritakan masa kepemimpinan seorang kaisar terakhir penghuni Forbidden City, Aisin Gioro Pu Yi.

Kini yang memadati ruang terbuka luas di dalam kompleks Forbidden City bukan lagi prajurit dan pelayan dengan pakaian khas pegawai istana. Melainkan turis yang berasal dari berbagai kota dan negara di dunia. Meski begitu, kemegahan arsitektur bangunan-bangunan tua yang kokoh tetap terpancar dengan begitu kuatnya. Hampir setiap sudut, setiap angle, yang diambil diambil gambarnya oleh kamera, meski hanya dengan kamera pocket, mutlak hasilnya bagus. Jadi, sebagai salah satu wisatawan yang kemampuan fotografinya biasa saja, saya tidak merasa perlu “jungkir balik” cari angle yang istimewa.

Dari awal saya mendengar namanya, saya sudah merasa situs ini misterius. Dan ternyata memang iya. Memasukinya saja sudah butuh upaya ekstra. Dari lapangana Tiananmen yang ada di seberangnya, kita perlu menyeberang lewat terowongan bawah tanah terlebih dulu. Sehingga rombongan turis tidak memadati jalan raya.

Sesampainya kembali di atas, wisatawan disambut oleh Mao Zedong. Tapi hanya potret raksasanya saja. Gambar pemimpin revolusi China ini menghiasi bangunan yang menjadi pintu awal (pintu selatan yang namanya Tiananmen Wai) menuju kawasan Forbidden City.

Setelah melewati lorong panjang gerbang TiananMen di sebelah selatan, langsung tampak kemegahan bangunan DuanMen. Menuju ke gerbang ini, kita perlu melintasi jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan di kedua sisinya. Sehingga tak perlu takut kepanasan. Tapi toh saya datang di hari hujan siang itu, Kamis (21/8). Makanya suasana di dalam istana yang pernah ditinggali 24 kaisar dari Dinasti Ming dan Qing ini jadi lebih syahdu.

Setelah gerbang yang dinamakan DuanMen tersebut, saya kembaliterpaku melihat gerbang yang sama-sama bercat merah dengan hiasan ornament emas, namun kali ini bahkan jauh lebih megah. Namanya Meridian Gate (Gerbang WuMen). Di sini saya dan teman-teman beristirahat sebentar. Padahal baru pintu masuk. Tapi kami perlu waktu sejenak mengurusi karcis masuk, baru kemudian perjalanan belanjut.

Saking panjangnya jalur di dalam Forbidden City, saya sampai tak hafal lagi sudah berapa gerbang yang sudah terlewati. Dan apa saja nama-namanya. Mengingat luas area sebesar 74 hektar, mustahil untuk mengunjungi setiap bagian dari istana yang pada sejarahnya tertutup bagi orang awam selama 500 tahun sejak dibangun pada masa pemerintahan kaisar Ming ketiga, Yung Lo (1403-1423) ini. Belum lagi, masih ada banyak sekali bangunan besar dan kecil di sekeliling gerbang utama yang merupakan tempat tinggal para selir, kasim, dan pegawai lainnya.

Makanya pilihan tur pun beragam, ada yang seharian, setengah hari, atau tur kilat 2 jam seperti yang saya dapat. Dalam 2 jam itulah, rombongan saya berusaha memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan di area yang indah luar biasa itu. Kami menghafal tempat paling berkesan, mengambil gambar dengan latar belakang paling memukau, melongok-longok ke dalam ruangan yang paling unik, dan mendengar cerita yang menurut kami paling menakjubkan.

Tempat paling memukau, buat saya, adalah jembatan menuju Tai He Men atau the Gate of Supreme Harmony, yaitu gerbang utama memasuki lapangan terluar Forbidden City. Ada 4 jembatan besar yang bisa dipakai untuk mencapai lapangan di depan Tai He Men ini. Konon, semasa Dinasti Ming, para pejabat yang diundang kerap berkumpul, sebelum fajar, di lapangan ini dengan disaksikan Kaisar dari ambang gerbang Tai He Men.

Nah, karena sejarahnya, dan karena perpaduan keindahan arsitektur bangunan yang disempurnakan kilau sungai yang dinamai Golden River, lokasi ini jadi favorit saya. Selain dari kamar kaisar dimana ia biasa tidur bersama isterinya. Demi yang satu ini, saya rela berebut melongok ke dalam ruangan demi melihat ranjang besar berwarna merah milik pemimpin negeri China di masa itu. Cerita dari seorang teman yang sekaligus pemandu, kamar tidur ini dipakai kaisar bersama isetrinya. “Namun kalau dengan selirnya, kaisar bisanya menggunakan ruangan lain.” Pemandu yang lain bahkan mengatakan bahwa kaisar di masa itu bisa memiliki selir sampai puluhan ribu. Wah, dan semua yang mendengar pun ternganga kehilangan kata-kata. Jadi benar kan, ruangan menyangkut kisah yang satu ini menarik.

Setelah hampir putus asa karena tampaknya Forbidden City tak habis-habisnya dilalui, akhirnya terlihat juga gerbang terakhir. Tapi harus melewati dulu taman istana. Di sini, taman bisa jadi tontonan tersendiri karena keunikannya. Selain pepohonannya tua, bentuknya pun misterius. Ada yang menyatu di bagian atas dan ada juga yang saling terkait menunjukkan keabadian cinta. Kisahnya, kaisar terakhir Dinasti Qing berfoto di depan pohon ini sesaat setelah upacara pernikahannya dengan harapan cintanya akan abadi.

Taman yang indah namun bernuansa “gelap” ini cocok jadi penutup perjalanan di Forbidden City. Karena mendinginkan perasaan setelah berpeluh “mengorek” jejak sejarah setiap bangunan di dalam kawanan istana ini. Gerbang terakhir pun saya lewati dengan sukses. Yaitu pintu paling utara dari Forbidden City. Namanya adalah Shenwu Men (Gate of Divine Prowess). Dari sini jalan raya sudah kelihatan. Juga sungai besar yang dijadikan perlindungan supaya musuh tak bisa langsung masuk ke wilayah Forbidden City. Tak kalah menakjubkan, pintu utara ini juga menghadirkan pemandangan luar biasa. Khususnya, matahari terbenam yang menemani saya dan teman-teman melepas lelah di tepian sungai. Syifa Amori

Alkisah Kota Terlarang…



Sudah hampir senja sewaktu saya duduk di halaman Forbidden City menghadap sebuah kuil di atas pegunungan yang letaknya tepat di seberang jalan. Berhadapan dengan gerbang timur, ShenwuMen (Gate of Divine Prowess). “Bus kita masih jauh. Kita istirahat di sini sambil menunggu yang lain,” kata Mr. Flower, begitu rombongan jurnalis Indonesia memanggil sang guide yang kerap menjunjung tinggi setangkai bunga Matahari buatan, supaya pengikutnya tidak kehilangan jejak. Karena objek wisata yang dikunjungi hari ini tak terkira luasnya, banyak anggota rombongan kami terpisah-pisah. Mungkin setiap orang punya sasaran eksplorasinya sendiri.
Dibangun oleh lebih dari sejuta pekerja selama 13 tahun, mulai tahun 1406 hingga 1420 oleh Kaisar Yong Le, kompleks istana Forbidden City mencakupi 980 bangunan dengan 8.707 kamar dan mencakup 720,000 meter persegi. Dinding yang melingkupinya memiliki tinggi lebih dari 30 kaki. Interior nya dicat kuning terang. Batu bata yang melapisi tanah, juga atap-atap yang menjulang ke langit, sejumlah dekorasi dan kuil di seluruh Forbidden City memiliki warna kuning. Hingga tahun 1911, ketika revolusi tiba di jalan-jalan, disinilah tempat di mana para kaisar tinggal, memerintah dan bersembahyang.
Dan disinilah saya termenung mendengarkan kisah seputar Forbidden City dan golden river. Sungai yang membatasi sisi timur Forbidden City dengan dunia luar supaya musuh tak mudah menyerang dan orang luar tak mudah masuk. Seperti parit kira-kira fungsinya. Bisa jadi ini karena begitu takutnya penguasa di istana kalau kehidupannya diketahui rakyatnya sendiri. Akibat banyaknya kekejaman dan ketidakadilan terkait keputusan Kaisar yang boleh sewenang-wenang waktu itu.
Film The Last Emperor yang dibuat pada 1987 kurang lebih menggambarkan situasi di dalam Forbidden City ketika Kaisar terakhir penghuni Forbidden City, Aisin Gioro Pu Yi, dijadikan raja 10 ribu tahun oleh ibu suri dengan gelar putra langit untuk memimpin Forbidden City pada usia 3 tahun. Raja kecil ini hidup dalam hamparan bangunan luas yang tertutup dari peradaban luar dengan segala aturan dan tata krama yang mengekang. Ia tumbuh jadi pribadi dewasa dalam tempaan nilai-nilai moral yang membuat setiap orang disekitarnya menganggap dia tak berbeda jauh dengan Tuhan. Segala pelayanan terbaik diberikan demi raja, apa pun dilakukan untuk raja. Meski berada didalam kota terlarang, Pu Yi kecil mutlak berkuasa untuk negaranya dalam istana mewahnya yang bergelimang harta benda.
Dalam blog probadinya, Saphira yang pernah juga berkunjung ke Forbidden City berbagi cerita bahwa kompleks istana Kaisar ini penuh dengan hantu dan cerita mistik. Bisa jadi, karena banyak asa dan dendam tertinggal di sini. Tempat dimana kaisar sebagai putra langit adalah satu-satunya lelaki normal yang hidup dengan ribuan selir, istri, gundik, permaisuri, serta ibu suri. Belum lagi ribuan dayang dan para kasim (bawahan yang telah dikebiri).
Di China kuno, pengebirian adalah salah satu bentuk hukuman tradisional (hingga Dinasti Sui) dan sarana mendapatkan pekerjaan di kalangan istana Kaisar. Orang-orang kasim diberikan jabatan tinggi dengan alasan mereka tidak dapat mempunyai anak sehingga tak akan tergoda merebut kekuasaan dan memulai sebuah dinasti. Memang di zaman ini, banyak kekejaman berupa pemenggalan kepala atau penggantungan dilakukan pada siapapun yang melakukan kesalahan.
Tapi ada juga cerita cinta yang mampu mengalahkan “arogansi” dinding pelindung Forbidden City. Apalagi medianya, kalau bukan Golden River. Agak unik kisah yang satu ini. Yang bercerita adalah teman jurnalis keturunan China. Saat rombongan kami sedang sama-sama menyusuri Golden River.
“Dulu, saking banyaknya selir. Sampai ada yang tidak pernah tersentuh raja. Dan perawan sampai tua,” katanya. Sehingga banyak diantara ribuan selir itu yang kesepian. Dan salah satunya berusaha melewati hari-hari membosankan dalam kungkungan dinding Kota Terlarang dengan menulis sastra. Tulisan di atas kertas itu ia buang di Golden River (yang mengaliri bagian dalam istana) hingga seorang pemuda menemukannya di sisi sungai di luar gerbang. Dan puisi-puisi itu ia temukan berkali-kali sampai membuatnya jatuh hati. Demi cinta, sang pemuda nekad memasuki gerbang Forbidden City.
Melihat kekejaman penguasa, saya dan teman-teman menebak bahwa kisah cinta ini berakhir tragis dengan hukum gantung bagi keduanya. Rupanya tidak. Setelah mengetahui, Kaisar malah menghadiahi pemuda itu selir yang piawai bersastra tadi. Dan jadilah Golden River saksi kisah cinta mereka. Benar juga, Forbidden City tak Cuma berisi sejarah yang menyayat hati, tapi juga yang “manis-manis”. Tak terasa kami sudah berjalan jauh. Panggilan ketua rombongan terdengar mengajak kami menuju bus. “Ayo, kita berangkat. Waktunya makan malam.”
Syifa Amori