Minggu, 09 Mei 2010

Kehangatan Fotografi Iwasaki


Bagi Iwasaki Akinori, kegiatan fotografi bukan hanya berkutat soal foto


Pikirannya melayang terhadap Ibu yang sedang bekerja di Malaysia sebagau TKI. “Bu, pulanglah pada Lebaran nanti…” (Banten Lama, 5 Oktober 2008)


Teks yang menyentuh hati ini tertulis diatas secarik kertas kecil berbentuk persegi yang ditempel dibawah foto hitam-putih berpigura hitam. Isi fotonya pun tak kalah nelangsa-nya. Tampak seorang ayah berkemeja sederhana tengah duduk dengan seorang anak balita yang berdiri diantara kedua lututnya. Keduanya menatap kamera, kecuali anak perempuannya yang berdiri lebih dekat ke kamera, namun justru menatap ke kejauhan. Pandangannya kelihatan kosong.


Bersandar pada cabang-cabang batang pohon yang tak berdaun, gadis cilik ini melamun dengan mata merindu. Seperti memang saat itulah ia ingin ibunya yang jauh-jauh mencari nafkah untuk datang menjenguknya. Mungkin juga, ia tengah asyik mengingat-ingat senyuman sang ibu. Yang pasti, Iwasaki -fotografer yang menuliskan teksnya- tidaklah mengada-ada soal apa yang tengah dirasakan objek dalam foto-fotonya.


Bukan hanya foto diatas saja yang menyentak emosi. Beberapa karya Iwasaki lainnya juga membuat hati terbawa suasana sendu dan juga riang hati yang sangat murni dan tidak dibuat-buat. Iwasaki, bisa dibilang, sangat peka menemukan moment dan situasi yang pas untuk diabadikan. Moment yang sangat berbicara dan bercerita mengenai apa yang sebelumnya dan sesudahnya mungkin terjadi.


Iwasaki tidak memamerkan penggalan foto, namun seluruh tubuh dalam sebuah foto. Ia terjun ke kampung-kampung di wilayah pinggiran kota Jakarta, berbincang dengan masyarakat, saling mengenal dan berbagi kisah. Lalu meminta izin untuk memotret jika ia mendapatkan emosi dari calon objeknya.

Dengan pendekatan yang tidak sebentar ini, wajar saja kalau hasil jepretan Iwasaki yang dipamerkan di Galeri Mini Japan Foundation, memiliki efek emosional yang besar. Dari sekitar 20 foto yang didisplay sejak Jumat (15/1) hingga Sabtu (16/1) tersebut, semuanya mencerminkan “kejujuran” perasaan yang spontan. Iwasaki sendiri memasukkan kategori fotonya dalam fotografi human interest.


”Ini adalah pameran kedua saya sejak tahun 2003 dan masih dalam jenis fotografi human isnterest. Khususnya yang bermuatan lokalitas ketimuran. Sekarang apa-apa sudah mencontoh Amerika, sementara saya melihat di sekitar saya masih sangat terasa nilai-nilai lokal yang menyejukkan. Kebahagiaan dalam kehidupan sekahir-hari yang sederhana dan mungkin biasa saja. Itulah yang ingin saya angkat,” kata Iwasaki yang akrab disapa Samsul saking sudah meng-Indonesia. Bahasa Indonesianya pun sudah sangat lancar sehingga membantunya berinteraksi dengan masyarakat tempat ia berkelana mencari objek foto.


Menurut Iwasali, situasi di perkampungan di Indonesia mengingatkannya pada Jepang di masa lalu. Saat itu antar rumah tanggak dalam satu lingkungan saling peduli dan akrab.


“Kini, semuanya berjarak. Banyak orang tinggal di apartemen tanpa tahu siapa tetangga mereka. Di Indonesia, masih ada keakraban macam ini,, misalnya adanya tiga generasi dalam satu rumah, kakek-nenek dan cucu saling bercengkrama dan menghormati yang tua,” kata Iwasaki yang sudah melakoni hobi fotografinya dengan serius selama lebih dari 10 tahun.


Kelihatannya, apa yang memancar dari foto-foto karya Iwasaki memang kesungguhan. Meski tak ada keistimewaan siginifikan secara teknis atau pemilihan objek dari fotografi profesional lain sekelas dirinya, hasil foto Iwasaki menyampaikan keutuhan yang sukarela. Ia mengizinkan orang-orang dalam fotonya untuk juga menjadikan dirinya sebagai ”objek” setelah ia menjadikan mereka objek dalam foto-foto.


Caranya adalah dengan berkomunikasi, mengobrol, dan mendengarkan curahan hati. Bincang-bincang ringan yang membuat objek fotonya merasa turu ambil bagian dari proyek Iwasaki. Apalagi, setelah memotret, biasanya Iwasaki akan datang lagi untuk menyerahkan foto diri mereka. Hubungan antara Iwasaki sebagai fotografer dan semua orang yang ada dalam fotonya tidak sesingkat proses melepas shutter-rana (tombol untuk memotret). Kompkleksitas inilah yang mewarnai pameran berjudul Temanku Ada di Sini tersebut.


”Saya berterima kasih, setelah saya memotret dan terima dari mereka, selanjutnya saya yang kasih,” kata Iwasaki yang melanjutkan proses fotografinya dalam dialog setelah pemotretan. Makanya Iwasaki selalu membawa dua kamera, satu untuk yang hitam putih dan yang lainnya adalah kameran untuk foto berwarna yang nanti akan dikembalikan.


Pilihan untuk memilih artistik foto hitam putih, menurut Iwasaki, adalah karena alasan teknis yang memperbolehkan dirinya memproses dengan cara mencuci film sendiri secara manual. Jadi ia bisa menggunakan tangannya sendiri hingga akhir proses. Untuk alasan estetiknya, Iwasaki mengaku kalau lokasinya memotret kebanyakan adalah komunitas ekonomi bawah yang hidup di tengah kondisi kumuh. Kekumuhan inilah yang buatnya bisa sedikir disamarkan oleh teknik hitam-putih.


Selain itu tentu juga karena kesan klasik yang tetap disukai dari foto hitam-putih. Di masa sekarang, eranya teknologi digital, hitam dan putih dirasakan membangun rasa nostaldia abad 20-an. Apalagi, kontras hitam dan putih serta gelap dan terang di dalam teknik ini dianggap sangat representatif untuk menghadirkan ”pesan” yang ingin ditekankan dalam sebuah karya.


Selain unsur klasik, hitam-putih masih dianggap sebagai cara termurah dan termudah untuk para pemula menguji kreativitas mereka. Para fotografer profesional pun masih.banyak yang menggunakan fotografi hitam-putih untuk alasan artistik tersendiri dengan eksplorasi teknik masing-masing demi menonjolkan gaya dan cirinya masing-masing.


Sebuah forum diskusi ruang jmaya di ditus acehfotografer.net, dikatakan bahwa saat memandang karya foto hitam dan putih akan terlihat daya tarik yang kuat dengan tone, bentuk dan tekstur yang berbeda, berpadu tanpa ada gangguan warna. Terbukti juga hingga kini foto hitam dan putih juga masih disukai dan sebagai fotografer memotret hitam dan putih bisa meningkatkan keterampilan. Hal ini membuat orang lebih terampil memahami kontras, bentuk, tekstur dan juga kita dilatih mengatur terang dan gelap sebagai elemen untuk menghasilkan foto yang baik. Saat ini membuat foto hitam dan putih dapat dengan mudah dan cepat dihasilkan. Di dalam kamera digital juga terdapat fasilitas pemotretan monokrom.


Selain itu, tentu sentuhan kepiawaian gaya dan teknis pribadi Iwasaki dalam memotret juga memukau. Misalnya pada beberapa foto yang secara visual sangat ideal secara komposisi. Termasuk juga fokus dan pencahayaan yang tak perlu diragukan lagi.


Misalnya foto sekumpulan anak-anak kecil –laki-laki dan perempuan yang sedang berkerumun di dekat gerobak kayu, dibawah rimbunnya dedaunan pohon yang merunduk ke tanah. Meski sekilas foto ini hanya memperlihatkan kebersamaan dalam “bingkai” fotografi yang terlatih, namun jika dilihat lebih seksama, komposisinya sangat unik. Bagai buah-buah bulat yang menggelantung ranum di ujung-ujung ranting berdaun. Sangat memesona. Sesuai dengan kalimat pendek dalam catatan Iwasaki, Pohon Berbuah Malaikat.


Jika komposisi adalah kelebihan dalam foto tersebut, maka foto berjudul Kepergian Bapak Sarman yang fokus pada figur seorang kakek di dalam ruangan sangat vokal dalam hal pencahayaan. Gelapnya ruangan pengambilan foto dimanfaatkan sang fotografer untuk mencari spot yang pas demi mendapatkan cahaya pada bagian yang ingin difokuskan, separuh wajah dan sebelah lengan kurus dan sedikit punggung kurus sang kakek. Sisanya hanya hitam dengan secercah cahaya yang mengintip sedikit dari ventilasi di bagian belakang latar.


Dalam catatan pameran Temanku Ada di Sini –mengutip dari woodmag edisi 20 Januari 2009- dikatakan bahwa Iwasaki menekankan pengenalan kamera yang menjadi piranti andalannya semaksimal mungkin agar dapat mengubah kelemahan menjadi kekuatan dalam karyanya. Termasuk jika kameranya lemah dalam soal cahaya. Bahkan dengan puluhan koleksi kameranya, ia sangat hafal karakter tiap masing-masing kamera tersebut.


Foto laki-laki renta usia ini juga dirasa Iwasaki paling mengesankan berhubung ketika ia kembali lagi untuk memberikan foto yang sudah dicetak, ternyata sang kakek sudah tiada. Makanya Iwasaki lalu menulis agak banyak dalam catatan dibawah foto ini: Selama ini saya ditinggalkan oleh orang-orang yang menjadi objek foto saya. ”Mari ketemu lagi di dunia akhirat”. Itulah salam terakhir saya terhadap mereka.


Semakin dalam menyimak karya Iwasaki, semakin dalam juga pengunjung akan terlibat dalam jurnal pribadinya, dimana setiap gambaran adalah sebuah curhatan, dari fotografernya, objeknya, dan mungkin juga penyimaknya.


Syifa Amori

Jumat, 02 April 2010

Berbagi Kegelisahan Perempuan Dua Dataran














Meski isunya sama, Latitudes in Transit menghadirkan ekspresi keperempuanan seniman Meksiko dan Indonesia yang berbeda-beda

Memasuki ruangan pameran di Hall B Galeri Nasional Indonesia, mata pasti langsung terpaku pada sebuah gaun pengantin yang terdapat pada salah satu dinding. Menempel pada sebuah bidang besar berwarna merah muda, karya ini memberi kesan yang bikin merinding. Apalagi karya yang dijuduli Engagement with Pink ini menghadirkan bagian belakang sosok perempuan melalui rambut yang diberi tudung pengantin.

Benar saja, seniman yang membuatnya, Tiarma Sirait, juga mengakui bahwa karyanya sengaja dimiripkan dengan tokoh setan gentayangan. “Saya menggunakan rambut asli orang China saat saya berkunjung ke sana tahun 1994. Dengan menggunakan rambut asli, karya saya tampak lebih hidup dan agak-agak seperti tokoh Sadako, film horor Jepang yang sangat saya sukai,” kata Tiarma pada Jurnal Nasional.

Tiarma Menjahit gaun pengantin terlebih dulu sebelum menjahitkannya ke bahan pink bulu-bulu sintetik. Karena, kata Tiarma, lem tidak akan cukup kuat untuk menempel bagian satu ke bagian lainnya.

Membuat karya dengan teknik mixed for collage ini, menurut Tiarma, memerlukan waktu bulanan. Alasannya selain karena ia adalah seniman yang tak mudah puas, juga karena butuh perenungan yang lama. “Khususnya untuk menentukan dimana sebaiknya meletakkan dekorasi bunga pada gaun pengantin yang saya buat, lalu bagian mana yang seharusnya dibordir, dan apa bahan yang cocok. Jadi research material, konsep, dan estetikanya makan waktu cukup lama.”


Engagement with Pink adalah satu dari 26 karya seniman perempuan Meksiko dan Indonesia dalam pameran “Latitudes in Transit”, A collective sample of Mexican and Indonesian women artists yang terselenggara dari tanggal 6 hingga 29 Maret 2009. Pameran yang terlaksana dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional ini menampilkan karya seniman Meksiko dan Indonesia yang akan berbagi ekspresi keperempuanan mereka dalam realitas hidup masing-masing. Dan juga berbagi tentang bagaimana mereka menghadapi realitas tersebut melalui kesenian.

Kolaborasi seniman dalam Latitudes in Transit memuat juga pengalaman pribadi para seniman dari kedua negara yang hidup dalam dataran geografis yang terpisah jauh. Seperti yang disampaikan Konsulat untuk Kebudayaan dan Sekretaris Kedua Kedutaan Besar Meksiko Louis Fernandez, “Pameran ini membagikan banyak sekali pengalaman di berbagai bidang yang berbeda. Termasuk tekanan sosial terkait peranan perempuan dalam kehidupan sosial. Juga permasalahan perempuan yang spesifik terjadi di wilayah geografis tertentu.”

Saat ditanya soal karakteristik yang secara umum membedakan karya seniman kedua negara, Louis merespon, “Jika melihat karyanya satu persatu, saya rasa kita akan bisa mengenali mana yang dibuat seniman Meksiko dan mana yang Indonesia. Ini kelihatan dari informasi yang khas dan juga persepsi yang kita dapat terhadap karya tersebut.”

Meski semua terkait dengan isu keperempuanan, dengan pengalaman dan tanggapan setiap seniman, kelihatan sekali kekayaan ragam nuansa karya yang dipamerkan dalam Latitudes in Transit. Sebut saja kegelisahan seniman perempuan Indonesia Lie Fhung yang membuat To Breed Or Not To Breed: Vis a Vis. Karya ini menggambarkan bahwa perempuan, dalam banyak fase di hidupnya sering digelisahkan dengan pilihan-pilihan. Melahirkan dan melaksanakan tugasnya sebagai ibu atau menapaki kebebasan sebagai perempuan yang mandiri tanpa melahirkan anak.

“Karya seniman Indonesia yang dikuratori Farah Wardani buat saya mewakili perempuan dari berbagai generasi dan berbagai latar belakang. Farah, dalam hal ini yang memilih seniman, sepertinya ingin menggambarkan beragam situasi yang dipilih perempuan. Ada Astari Rasjid yang sangat senior, Tiarma yang mengeksplorasi fesyen, lalu ada Keke Tembuan dengan karya foto-fotonya yang urban, dan saya yang mewakili ekspresi perempuan yang berkeluarga dan berkarya dengan suami,” kata Herra Pahlasari Saefullah saat dihubungi Jurnal Nasional.

Herra memamerkan karya foto dengan teknik c-print dengan objek laki-laki dan perempuan dengan berbagai pose.


Sementara Tiarma sendiri secara pribadi melihat bahwa seniman perempuan Meksiko yang karyanya dipamerkan rata-rata sudah berumur sehingga karyanya juga lebih banyak merepresentasikan ekspresi perempuan di tahap itu (classic). Pastinya ini tidak sama dengan ekspresinya sebagai perempuan yang hidup di jaman kekinian (contemporary).

“Ekspresi saya memperlihatkan bahwa perempuan masa kini banyak dealing dengan “kepalsuan” karena tuntutan zaman, tetapi sebagai manusia kita harus tetap bisa “fun” dengan keadaan apa pun,” kata Tiarma lagi.


Karya-karya seniman Meksiko yang dikuratori oleh Maria Ortiz dari Museum of Modern Art in Mexico City merupakan karya-karya yang dikumpulkan dari museum di Meksiko. Sayangnya, pada malam pembukaan, seniman perempuan dari Meksiko tidak turut hadir untuk berbagi. Selain itu, menurut Herra, pameran ini tergolong besar dan bagus, namun publikasinya kurang maksimal sehingga tidak terlalu banyak orang tahu.


Meski demikian, Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia yang dalam hal ini bertindak sebagai penyelenggara merasakan bahwa pameran bersama ini telah memberikan kesempatan berbagi. “Harapannya ini tidak hanya mendekatkan para seniman dari kedua negara, tapi juga hubungan Meksiko dan Indonesia,” ujar Louis.


Seniman Meksiko yang terlibat dalam pameran ini adalah Monico Castillo, Carla Rippey, Megali Lara, Alicia Paz, Perla Krauze, Irma Palacios, Maribel Portela, Marisa Lara, Betsabe Romero, Paloma Torres, dan Lorena Zozaya. Sedangkan dari Indonesia adalah Lelyana Kurniawati, Keke Tembuan, Tiarma Sirait, Lie Fungh, Ayu Arista Murti, Herra Pahlasari, Astari Rasyid, dan Indiguerillas.


Selanjutnya, Latitudes in Transit dengan didukung Kementerian Luar Negeri Meksiko akan melanjutkan tur pameran ini di negara-negara Pasifik. Untuk kemudian mengkomunikasikan karya seni ini dengan seniman perempuan di negara tersebut.

Syifa Amori

(Dimuat di Jurnal Nasional)

Terobosan Ide Yang Tersempurnakan


Patung realis dalam pameran Punching The Devil meramu pencitraan Dewa, manusia, dan iblis dengan proporsional


Seperti pada prinsip permainan lego, seniman Australia Rodney Glick mengaplikasikan konsep “bongkar-pasang” dengan membongkar bagian tubuh dan atribut yang ada pada dewa, kemudian memasangkannya pada figur manusia sehingga menghadirkan ekspresi dan pemaknaan yang baru. Juga mengundang respon; pertanyaan, ketergangguan, hingga rasa tergelitik mengenai wujud yang absurd, aneh, dan agak mistik –kalau tak mau disebut horor.


Rodney Glick sepertinya memang agak terobsesi dengan perwujudan klasik Dewa-Dewi dalam kepercayaan umat Hindu. Seperti yang dikatakan Chriss Hill dalam pengantar kurasinya: “Glick terinspirasi lukisan Hindu India dari abad ke-18 dan 19.”


Untuk mencapai hasil jadi karyanya, ia mengkoreografi gerak model (semuanya orang Australia) untuk mencapai sebuah figur Dewa dengan pose tertentu yang sudah ia skenariokan. Tidak berhenti pada meniru image Dewa dan Dewi, Glick mengeksplorasi lebih lanjut sehingga koreografi dalam foto akhirnya berwujudkan “makhluk” aneh baru dengan kecenderungan karakter fisik dan sifat yang ganjil; perpaduan sikap suci Dewa, keteledoran dan ketulusan manusia, dan hasrat iblis yang destruktif.


Pada foto yang sudah didesain dengan gubahan digital menjadi gambar utuh yang ganjil ini, Glick cenderung memperlihatkan nuansa sarkastis, semacam adegan saling bunuh ala film Kill Bill yang menggabungkan efek canggih dengan sadis.Di sisi lain, pose-pose lucu dalam foto yang mencerminkan proses pasca produksi pemahatan mengundang rasa geli yang memperlihatkan adanya sedikit humor sang seniman ketika mengonsepkan karya.


Misalnya seorang nenek berkebangsaan Australia yang difoto dengan pose tertentu –mengangkat kedua tangan dan menekuk kaki. Kemudian juga pose sepasang laki-laki perempuan yang berdiri berhadapan dengan tubuh saling menempel.


Dalam edit-an digitalnya, sepasang model ini lalu dihorizontalkan sehingga kelihatan saling tindih dengan tubuh si perempuan di bagian atas yang menjadi pijakan sesosok tubuh perempuan lain tanpa kepala dengan tangan menggenggam kepalanya sendiri dan tangan lainnya memegang sebilah pisau daging besar. Dari leher sosok tanpa kepala inilah digambarkan (dengan cropping yang kasar) muncratan darah yang jadi sumber air minum dua laki-laki lainnya.


“Mungkin ini tampak “berdarah-darah”, namun saya ingin memperlihatkan adanya makna yang lebih dalam dari sekedar penampilan mencengangkan ini, yaitu adanya tema besar dalam segi manusiawi, seperti cinta, kesedihan, dan kelahiran kembali.” ujar Glick dalam pengantar pembukaan pamerannya.


Memang seolah membuat mual, namun ada sentuhan tertentu dari gubahan digital Glick yang membuat foto ini menjadi sangat komikal dan seolah mirip candaan. Atau mungkin juga karena foto-foto ini ibarat “pemanasan” bagi pengunjung sebelum melihat karya lain yang lebih solid dan “jadi”. Yaitu pahatan patung-patung realis yang mewujudkan koreografi dalam foto dalam sebuah replika kecil yang sangat menduplikat.


“Banyak orang terlibat dalam karya saya. Mulai dari model dan juga seniman-seniman Bali yang bekerjasama merealisasikan konsep saya dalam wujud patung. Sejak zaman sebelum Renaissance, banyak seniman seperti Rueben, Leonardo, dan yang lainnya telah mengkonstruksi ide untuk kemudian dikerjakan timnya. Kerjasama seperti ini juga umum dalam masyarakat kontemporer karena karya dan imajinasi kita tidak bisa dibatasi satu studio saja,” kata Glick.


Foto-foto tersebut memang kemudian menjadi bahan “mentah” bagi seniman pahat Made Leno, pelukis Wayan Darmadi (Bona Kelod) dan Dewa Tirtayasa (Abianbase).


“Pemahat dan para pelukis Bali ini menciptakan patung-patung dalam seri ini, dengan arahan dari Glick sebagai pengambil keputusan artistik,” kata Chris Hill yang memuji kepiawaian teknis para seniman Bali tersebut. Menurutnya, Punching The Devil akan membuat orang memulai kekagumannya pada keahlian artistik dan estetika pemahat dan pelukis yang terlibat dalam pameran ini. Meski begitu Hill yakin bahwa dalam semua bidang seni, ide yang ditampilkan karya seni tetap penting.


Dalam pameran seni rupa yang dibuka hari Jumat (4/12) dan berlangsung hingga Sabtu (19/12) ini, Glick kelihatan seperti bermain-main –bukan mempermainkan- dengan konsep spiritual yang terdefinisi dalam kemanusiawian. Manusia-manusia, dengan penampilan khas kaum perkotaan modern ini dimasukkan dalam konteks ide Glick yang bisa dibilang berdampak terobosan pada penyadaran sifat dasar manusia.


“Pahatan patung memainkan peranan sebagai gabungan dari hal yang kuno dan yang modern, religius dan sekuler, Timur dan Barat. Pemeluk agama yang bukan Hindu, mungkin akan kaget mengetahui bahwa Dewa-Dewi Hindu yang penuh dengan kesucian dan keagungan, juga bisa memanifestasikan diri sebagai suatu ketakutan, keraguan dan sebagainya, seperti halnya karakter seorang manusia. Dan sebagaimana para Dewa juga mengalami kelemahan manusia, sebaliknya kita juga merasakan keagungan-Nya. Itulah yang mendasari perkembangan karya Everyone Glick,” kata Hill.


Ide ini dengan tanpa rintangan sepertinya berhasil ditransferkan kepada pengunjung, utamanya tentu berkat karya trimatra yang sangat hidup dalam serial Everyone. Pahatan realis ini dibuat dengan sangat apik, detail, dan presisi. Bahkan, material dasar kayu-nya tak bisa dikenali lagi karena bentukan tubuh manusia (lengkap dengan rambut, pakaian, dan atributnya) yang lentur tak bersudut. Begitu pun saat dia bergerak, kelihatan seolah sangat fleksibel. Baik segi tekstur dan pewarnaan patung, kecanggihan teknisnya sangat terasa.


Misalnya patung nenek dengan empat tangan yang sedang menggerakkan tangan dengan bebas. Meski ukurannya miniatur, namun kerut di wajah dan lekuk serta lipatan pakaiannya sangat nyata. Meski keputusan artistik ada pada Glick, tentu pemahat Made Leno juga secara total menumpahkan segenap perasaan dan imajinya untuk menghasilkan realisme yang begitu jitu.


Apalagi kebanyakan figur yang dibuatnya bukan wujud manusia biasa, melainkan manifestasi Dewa dengan segala keluarbiasaannya, seperti perempuan yang menyerupai Dewi Durga (Dewi cantik dengan banyak tangan yang masing-masing memegang senjata seperti cakram, petir, teratai, ular, pedang, gada, terompet, kerang, dan trisula). Dalam karya Glick, si perempuan cantik ini bertangan empat dan masing-masing menggenggam pisau panjang, pisau daging yang berlumur darah, kepala seorang laki-laki, dan semangkuk penuh darah.


Durga sebagai Dewi yang mengendarai harimau diwujudkan juga dalam bentuk laki-laki setengah baya (dengan lidah menjulur sedikit) yang duduk diatas panggung sapi dengan delapan tangan yang keempat tangan kanannya memegang pedang merah dan kesemua tangan kirinya memegang boneka laki-laki tanpa pakaian. Meski nyeleneh, absurd, dan horor, namun kepiawaian menyempurnakan detail karya trimatra Made Leno mampu berperan sebagai ”bingkai” agar ide Glick tidak liar dan meluas kemana-mana. Berkat teknis pemahat dan juga pelukislah maka keabsurdan karya Glick kemudian semakin mendapat ruang untuk diperbincangkan.


”Karya laki-laki diatas sapi inilah yang paling sulit secara teknis,” kata Made Leno saat diwawancarai. Seniman yang punya studio sendiri di daerah Gianyar Bali ini membutuhkan waktu selama setahun untuk mengerjakan desain-desain Glick untuk kemudian dipahat. Made Leno, yang telah bekerjasama dengan Glick dalam seri patung sebelumnya, membuat 5 buah karya ini. Ia adalah pemahat generasi ketiga dari desa Kemenuh, sebelah selatan Ubud, yang belajar mematung sejak kecil dari ayahnya, dan juga belajar secara formal di sekolah seni.


”Saya mengenakan skala dan melakukan berbagai eksperimen untuk mencari bentuk yang paling mirip dan sesuai dengan karakter objek. Untuk patung, saya menggunakan kayu suar, namun untuk membentuk objek lain yang unik harus eksplorasi lebih jauh. Seperti darah yang mengucur dan muncrat seperti air terjun, tentu tidak bisa material yang kaku dan tidak bisa juga yang mudah patah, maka saya menggunakan rotan. Jadi saya banyak belajar dengan teknik kerja yang baru ini,” kata Made yang mewujudkan gambar yang dibuat Glick dalam bentuk patung secara akurat dan terperinci.


Glick juga bekerja dengan dua pelukis muda, Wayan Darmadi dan Dewa Tirtayasa yang sama-sama jebolan sekolah seni, namun kuat pada teknik melukis tradisional yang menekankan pada ketelitian, akurasi dan detail.


Meski pun yang berusaha ditekankan Glick dalam pameran ini bukanlah kemuraman dan nuansa ritual penyembahan iblis, namun pengeksplorasiannya atas darah sebagai simbol kegelapan dan hal lainnya yang berbau film horor ala Barat (seperti menggenggam kepala sendiri) mau tak mau menggiring pengunjung ke dalam atmosfer yang agak sedikit bikin bergidik.


Nuansa positivitas soal kesetiaan dan kelahiran kembali, seperti yang diperlihatkan patung sepasang kekasih yang terselubung lotus. Menurut Hill, patung ini terispirasi lukisan India kuno tentang Krishna dan istrinya Radha. ”Walau tanpa mengetahui latar belakang karya ini, kita mungkin dapat melihat hasil karyanya sebagai perwujudan cinta dan keajaiban, emosi-emosi apa yang disembunyikan oleh sepasang kekasih.” Bunga lotus sendiri memang dipercayai sebagai simbol kebebasan.


Namun kecerahan ini, sepertinya kalah dominan dibandingkan kesan iblis dan satanik dalam pameran yang judulnya saja Punching The Devil. Kesan ini diperkuat dengan karya-karya foto hitam putih yang dikondisikan kuno dan mistik, karena kesemua objek dalam fotonya kehilangan wajah (baik karena lembar foto yang bolong terbakar di bagian itu atau karena kerusakan teknis pencetakan foto, atau sekedar gangguan kilatan cahaya saat pengambilan foto). Efek menakutkan dari foto-foto macam ini seringkali dipertunjukkan pada film-film horor (khususnya Barat, seperti misalnya Skeleton Key) yang umumnya melibatkan rumah tua dan sejarah kelam sebuah tempat.


Glick sendiri mewacanai rangkaian karya foto Defaced ini dengan sesuatu yang logis dan agak filosofis –jauh dari kesan seram. Yaitu bahwa ia semacam melakukan ”penghapusan” ikatan dan memori orang yang berada di dalam foto.


Ia mengambil foto keluarga dan membuat guratan untuk menghilangkan bagian wajah semua objeknya sehingga mereka tampak ”terapung-apung” dalam kondisi tanpa identitas, dan tidak memiliki keterkaitan apa-apa satu sama lain. Hubungan mereka dengan yang memandang foto pun tercerabut sehingga mereka tak dikenali, menjadi individual, namun representatif terhadap siapapun. Tindakan Glick ini membebaskan imajinasi untuk menebak dan membuat cerita yang baru (John Barrett-Lennard, dikutip dari katalog pameran God Favoured di galeri seni Lawrence Wilson, University of Western Australia)


Renungan yang mendalam ini pada akhirnya menghadirkan dua fokus berbeda dalam pameran. Sehingga agak sedikit bias soal apa yang ingin dicapai oleh Glick. Meski begitu, sepertinya Glick sadar bahwa ada satu hal yang menyatukan dua pergulatan ide ini, yaitu warna mistik dan horor yang dihasilkannya. Makanya ia kemudian membingkainya menjadi satu tema; Punching The Devil.


Syifa Amori

(Dimuat di Jurnal Nasional)

Pencarian Kepahlawanan Lewat Komik




Genre komik dalam seni rupa patut diperhitungkan karena kemampuannya memuat tema yang substansial dengan daya tarik tersendiri


Setelah selama 12 tahun dari SD hingga SMP, bahkan SMA, murid sekolah di Indonesia dihadapkan pada sosok-sosok pahlawan yang berkorban demi tanah air dalam buku pelajaran Sejarah mereka. Kini, mahasiswa Harvard Mark Zuckerberg yang menemukan dan membuat facebook mendadak juga dirasa bagai pahlawan. Berkat penemuannya, interaksi sosial dan komunikasi lintas benua dapat dilakukan dengan mudah. Meski tidak mengorbankan nyawa dan tidak dapat gelar, Zuckerberg telah membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak dan menjadi pahlawan bagi para peselancar di dunia maya.


Pergeseran sistem sosial budaya inilah yang dikatakan kurator seni rupa Kuss Indarto telah terjadi akibat pengaruh pesatnya perkembangan teknologi informasi. Ini, kata Kuss, berimplikasi pada pengenduran identitas yang khas pada suatu kelompok hingga pada cairnya identifikasi atas sebutan hero.


Dalam mempertanyakan dan memaknai kembali konsep kepahlawanan yang semakin meluas ini, Mon D├ęcor Galeri bersama Kuss Indarto menyelenggarakan Pameran Seni Rupa HERO-IS-ME. Pameran yang berlangsung hingga Sabtu (4/4) mendatang ini diikuti enam seniman (Andi Wahono, Aji Yudalaga, Donny Kurniawan, Indieguerillas, Pandu Mahendra, and Yudi Sulistya) yang mempresentasikan kembali beragam konsep kepahlawanan mereka dalam karya-karyanya. Termasuk cara pandang terhadap kepahlawanan dalam konteks perorangan.


Para perupa berusaha mengembalikan problem kepahlawanan kepada dirinya sendiri. Memang, tidak semua perupa mengarah pada asumsi tersebut secara banal dan transparan secara visual. Namun kita bisa menyimak titik menarik itu pada karya-karya Donny Kurniawan dan Pandu Mahendra. Kedua seniman ini kiranya tidak tengah membangun egosentrisme yang berlebihan dengan mempahlawankan diri-sendiri, namun bagai berusaha menciptakan pertanyaan ihwal keberadaan dan nilai kepahlawanan itu sendiri,” kata Kuss dalam pengantar kuratorial pameran HERO-IS-ME ini.


Pesan dan pemaknaan terhadap kepahlawanan jelas tersampaikan dalam pameran ini. Mulai dari karya Andi Wahono yang condong pada aksi kepahlawanan pada sebuah pertempuran dengan setting masa lalu, karya Yudi Sulistyo yang memperlihatkan perjuangan tentara di medan perang, hingga karya Indieguerillas yang memperlihatkan bentuk kepahlawanan era westernisasi yang sukses menggilas “pahlawan-pahlawan” lokal pada karya There goes My heroes Watch’em as They Goes.


Dalam There goes My heroes Watch’em as They Goes, Indieguerillas (Miko Bawono dan Santi Ariestyowanti) menggambarkan wajah Kolonel Harland Sanders yang sudah jadi logo Kentucky Fried Chicken bersama 2 orang superhero Amerika yang seperti akan menyantap tokoh wayang kulit punakawan (semar dan teman-temannya) selayaknya permen lollypop.


Ada pula karya Pandu Mahendra yang melukiskan aksi penyelamatan dari ancaman seorang anak oleh seorang pemuda masa kini yang dijuduli Panjang Taringku dan Malam diantara 9 Bintang. Yang juga tak kalah menarik adalah karya Kasih Tak Sampai-nya karya Donny Kurniawan. Mungkin saja, Donny yang juga menggambar komik yang diproduksi dan diterbitkan di Amerika Serikat ini ingin menceritakan perihal keberadaan pejuang cinta. Pahlawan yang tetap tegar meski impiannya tak kesampaian. Apalagi skisi kepahlawanan tentunya ada di diri setiap orang.


Kuss sendiri memilih komik dalam memediasi tema besar kepahlawanan untuk melawan mainstream seni rupa yang sedang mengikuti tren seni lukis China. Baginya, akan lebih baik untuk membuka jalan bagi para seniman yang belum masuk dalam pemetaan seni rupa Indonesia, termasuk pasarnya, yang tidak turut terbawa pola visual China yang sedang “mewabah”. “Kalau pun dikatakan bahwa pasar seni rupa sedang condong pada karya grafis atau pop-art, HERO-IS-ME sendiri lebih menekankan aspek komiknya bukan unsur graffity-nya. Dan kebanyakan mereka berangkat dari latar komik, bukan dari pop-art.”


Upaya Kuss untuk mengangkat komik sebagai mediator tampaknya berhasil. Pesan kepahlawanannya sangat kental mewarnai nuansa pameran HERO-IS-ME ini. Juga karena komiklah, lalu karya lebih mampu bercerita banyak. Paling tidak mengenai suatu adegan atau kejadian.


Meski begitu eksplorasi teknis dalam menggambar diatas kanvas jauh lebih dalam dibandingkan pada komik strip. Hal ini diakui Abdi Wahono, “Hanya menggambar komik strip rasanya nggak puas, makanya saya pindah ke kanvas walaupun teknis pengerjaan yang saya tempuh bisa dikatakan jauh lebih panjang dibanding pelukis biasanya,” kata Andi yang mengaku bisa mencapai sebulan lamanya untuk membuat satu karya saja.


“Saya menikmati proses pengerjaan ini. Makanya saya tidak mempermasalahkan waktu dan tidak terburu-buru ingin cepat selesai.” Andi mengawali karyanya dengan membuat sketsa dengan pensil diatas kanvas yang disusul sketsa tinta China dan pewarnaan awal dengan teknis cat air yang mengharuskan adanya sinar matahari demi membantu prose pengeringan.


Setelah kering, Andi harus meraba kembali sketsa yang sudah tertutup warna untuk diberi sisi gelap dan juga pengerokan untuk sisi terang. Setelah selesai barulah dilakukan pewarnaan kembali yang dilanjutkan finishing penekanan sisi gelap dan terang.


Karya Andi memiliki karakter yang sangat kuat dan khas. Unsur pewarnaan monokrom yang dipilihnya (cokelat hingga emas) memberikan kesan agung sekaligus agak sedih. Dan objek-objek dalam lukisannya juga punya karakter sendiri, seperti tokoh manusia seperempat dewa seperempat robot seperempat wayang yang sedang bergulat di dalam sebuah pertempuran besar. Dan sebagian besar tokoh berperang ini juga diwakili sosok perempuan tangguh.


Dengan kecenderungan tema peperangan, Andi masih memasukkan unsure personal seperti yang diperlihatkannya dalam Hero of The Day (Alone) yang menggambarkan sesosok tokoh diatas kuda perangnya tengah memetik alat musik dan meyiratkan rasa kesepian (mungkin setelah memenangkan peperangan yang akhirnya tidak menyisakan siapa-siapa.


Unsur personal juga kelihatan dalam karya-karya Yudi Sulistyo berjudul The Soul Behind the Gun dan juga karya yang menggambarkan tentara yang sedang meneteskan airmata. Dengan caranya sendiri, muatan gagasan dalam lukisan komik mampu menyampaikan pesan-pesan yang cukup berat yang ada didalam konsep kepahlawanan. Yaitu bahwa kepahlawan yang tak melulu terkait aksi heroik, tapi juga kemanusiaan, perasaan pribadi, keseharian yang sederhana (seperti dalam karya-karya Aji Yudalaga), budaya, dan banyak unsur kehidupan lainnya. Mudah-mudahan saja, pameran ini bisa menimbulkan kembali kepahlawanan dan penghargaan terhadap kepahlawanan sekaligus juga menguatkan posisi komik dalam pemetaan seni rupa.

Syifa Amori

(dimuat di Jurnal Nasional)

Mengisi Ruang, Memaknai Bayang


Sebuah tawaran untuk kembali merenungi tentang makna ruang dan bayang


Ruangan galeri Salihara kosong pagi itu, Senin (16/3). Belum ada pengunjung yang datang rupanya. Suasana jadi terasa sangat berbeda ketika menikmati karya pameran sendirian saja karena ketiadaan teman berdiskusi.


Bagaimanapun, di tengah-tengah kelengangan dan keheningan itu, justru penggalian makna atas sebuah karya bisa saja tergali lebih dalam. Suasana ruang yang lengang memang kondusif buat perenungan dan pencarian akan sebuah esensi.


Tak berbeda dengan apa yang dikemukakan Hanafi, seniman yang memamerkan karyanya dalam Pameran Tunggal Tentang Ruang dan Bayang di Galeri tersebut. Hanafi, saat dihubungi Jurnal Nasional, mengungkapkan bahwa kelengangan dibutuhkan untuk melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Hal ini ia sampaikan dalam menanggapi pengantar dari salah satu kurator pamerannya Hasif Amini.


Di dinding pintu masuk ruang pameran, Hasif Amini menuliskan, “Gerak. Kecepatan, kesibukan, hiruk-pikuk, itulah sederet penanda kehidupan urban yang tak jauh dari keseharian Hanafi. Namun, dari tahun ke tahun, tampak sebuah kecenderungan dalam karya dia yang kian mengarah kepada kesunyian dan kelengangan.”


Hanafi tidak menolak ini, meski menurutnya bisa saja subjektif. Tapi yang penting, kelengangan dalam karya-karya Hanafi adalah sebuah upaya untuk menjelaskan. Kelengangan adalah untuk memaksimalkan esensi dan bukannya untuk meminimalisir bentuk.


Ada belasan karya lukis yang dipamerkan Hanafi dalam Ruang dan Bayang. Kesemuanya dilukiskan dalam bidang yang lebar dan tanpa diberi judul. Jadi tentu makin sulit menfasirkan apakah itu menyangkut ruang atau bayang, ataukah keduanya.


Salah satu yang menarik adalah adanya kanvas-kanvas kecil yang disusun menjadi sebuah bidang besar memenuhi permukaan dinding dengan torehan warna kelabu yang bertuliskan nama-nama Arab, tanggal, serta tahun. Seperti efek gradasi, Hanafi melengkapi kanvas-kanvas kecil itu dengan warna abu-abu, hitam, hingga putih karena sama sekali tak digambari.


Nama-nama Arab ini memperlihatkan sensitivitas Hanafi atas fenomena yang terjadi dalam kenyataan, yaitu perang di Palestina. Karenanya, karya ini mengingatkan (karena serupa) dengan nisan pada makam seseorang. Adapun kaitannya dengan ruang dan bayang, Hanafi lebih suka membebaskan penikmatnya untuk mempersepsikannya. Yang pasti, buat senimannya sendiri makna dan eksplorasinya bersifat pribadi.


“Sebetulnya, dalam karya apa pun, bagi saya self memory itu bisa memberi andil besar dimana pekerjaan itu akan dikontekskan. Apakah masa silam, masa depan, atau masa kini. Itu tergantung dari cara kita melihat. Dalam artian, cara yang kita pakai dari sejak lama. Bagaimana sebuah kejadian memberi impact pada kita,” kata Hanafi.


Menurut seniman kelahiran Purworejo, 5 Juli 1960 ini, kegelisahan dalam karya-karya Ruang dan Bayang pun mirip-mirip. Tidak akan jauh dari bagaimana cara dia memerangi persoalan. “Bahkan dalam pekerjaan-pekerjaan seni rupa saya, sebenarnya adalah cerminan bagaimana saat menghadapi kehidupan ini sendiri. Mana yang akan saya dahulukan dan mana yang kemudian saya anggap cukup. Jadi semua tercermin dari bagaimana saya menghadapi hidup. Menghadap kegagalan atau menghadap keberhasilan.”


Jim Supangkat, yang beberapa kali pernah “memegang” pameran Hanafi juga mengungkapkan bahwa Hanafi adalah seniman yang sangat terikat pada pengalaman personal. “Selain itu, karena dia berhubungan dengan seni rupa sejak kecil, kepekaan dan penguasaan bahasa artistiknya sangat baik.”


Meski karya instlasi yang dipamerkan tidak sebanyak karya lukis, namun tetap menarik perhatian. Patung putih yang berjongkok dalam sebuah bidang hitam terbuka sambil merentangkan meteran di pojok ruang pameran, sangat mampu mendeskripsikan keinginan senimannya untuk mengukur bayang. Tapi bayang yang mana? Apakah bayang seperti kenangan atau hal yang muncul dalam pikiran atau bayang yang dalam ilmu pengetahuan alam terjadi ketika cahaya terhalang sesuatu? Dan untuk apa?


“Di diri saya ini, diri anda, dan diri orang lain, selalu ada bayangan yang setia pada kita. Saya mengukur kesetiaan saya. Mengukur diri ini adalah sebagai kewaspadaan. Orang Jawa bilang tepo seliro, mbok bercermin diri dulu. Saya tidak akan pernah melampaui batasan diri. Tapi batasan kan banyak, jadi yang tahu diri kita sendiri. Kalau pun orang bilang dia tahu kemampuan kita, itu hanya perkiraan.”


Selain patung dan meteran, ada pula 7 patung bertelanjang dada yang meringkuk di lantai dengan wajah ditutupi sehelai kain kecil. Entah bagaimana mendeskripsikannya, namun kesan yang didapat setelah melihat patung-patung ini mengingatkan pada saat-saat paling pribadi dalam hidup seseorang. Dimana saat berbaring dan mata tertutup, maka muncullah bayang akan segala sesuatu yang telah berlalu atau yang mungkin akan terjadi.


Baik seni lukis maupun instalasinya, diselesaikan Hanafi dalam waktu 2 sampai 3 bulan. Karya yang dipajang disesuaikan kapasitas ruangan yang tidak mencukupi jumlah seluruh karya Hanafi yang dibuat dengan tema Ruang dan Bayang ini. Hanafi bisa menyelesaikannya dalam waktu relatif singkat karena ia memilih untuk berkerja intensif. Pertimbangannya bukan soal cepat saja, tapi karena menurut Hanafi, ada semacam kausalisme yang tidak mungkin dipecah oleh suatu hal yang lain.


Pameran Tunggal Ruang dan Bayang dikuratori oleh empat orang Nono Anwar Makarim,

Enin Supriyanto, Goenawan Mohammad, dan Hasif Amini. Keempatnya mendekati karya Hanafi dalam Ruang dan Bayang dari 4 angle yang berbeda. Mulai dari proses, kosteks kesenirupaannya di ranah seni rupa Indonesia, hingga perjalanan Hanafi sebagai seorang perupa yang telah lama berkiprah.


Karenanya, mengunjungi pameran ini jadi tambah menarik. Selain seolah mendapat guidance tentang latar belakang pilihan tema dan perenungan Hanafi dari para kurator, suasana ruang galeri yang dikondisikan Hanafi sedemikian rupa juga mendukung proses seseorang dalam menghadirkan kembali bayang-bayang yang sesekali dilupakannya.


Syifa Amori

(dimuat di Jurnal Nasional)

Visualisasi Ilmiah Pulau Jawa







Peneliti alam jenius ini menunjukkan keilmiahan karya artistiknya yang presisi, sekaligus kepiawaiannya dalam seni grafis

“Siapa pun yang sudah membaca buku-buku Junghuhn, mengagumi peta-petanya, terbius pada gayanya yang cemerlang, pasti akan berpendapat bahwa Junghuhn adalah pakar Jawa universal yang sangat langka dan perpaduan peneliti dan penyair.”

(Karl Helbig, 1965)

Adalah wajar jika seorang peneliti mengeksplorasi obyek penelitiannya di alam liar, lalu membawa hasil temuannya ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut. Pada tahap akhir risetnya, tentu sang peneliti mesti menerbitkan tulisan sebentuk jurnal yang mendeskripsikan proses dan hasil, serta bukti-bukti ilmiah dari pencapaiannya.

Bagi peneliti pulau Jawa asal Jerman -yang kemudian pindah kewarganegaraan menjadi Belanda- Franz Wilhelm Junghuhn, seluruh hasil dari riset dan perjalannya di Pulau Jawa tak cukup jika hanya dituangkan dalam karya tulis, akan tetapi juga gambar -lukisan alam. Mulai dari sketsa sederhana sampai dengan peta topografi Pulau Jawa yang akurat dan luar biasa mendetail.

“Dia juga mencantumkan posisi dan nama setiap kampung yang ada di Pulau Jawa. Bandingkan dengan yang dibuat oleh Raffles tahun 1817,” kata Roman Rosener saat pembukaan Pameran Memperingati 200 Tahun Peneliti Pulau Jawa: Franz Wilhelm Junghuhn di Erasmus Huis, Rabu (18/11). Roman Rosener adalah Kosultan Proyek Budaya dan Pembangunan Goethe-Institut yang juga mengetuai proyek pameran ini.

Peta hasil karya Junghuhn yang berukuran panjang 79 meter dan lebar 19 meter ini, dalam display pameran malam itu, sengaja dipasang di bawah peta Raffles sebagai rujukan dan bahan pembanding bagi pengunjung. Ini karena Raffles sebenarnya telah menginisiasi pembuatan peta Pulau Jawa semasa VOC.

Dalam simposium terkait peringatan 200 tahun Junghuhn yang diselenggarakan di Kampus ITB pada Oktober lalu, disampaikan para pembicara (seperti tercantum dalam situs Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB) bahwa pelat karya yang dihasilkan Raffles sangat dekoratif, tetapi sayangnya tidak akurat. Hal ini mendorong Junghuhn untuk melakukan pembuatan ulang yang berhasil diselesaikan pada tahun 1885. Prestasi kartografi ini merupakan yang terbesar karena hanya dibuat oleh satu orang.

“Junghuhn tidak memiliki tim atau pun asisten dalam perjalanannya meneliti tempat-tempat di seluruh pulau Jawa. Sering yang membantunya adalah penduduk lokal yang membantunya membawakan alat-alat penelitian yang berat, misalnya teodolit,” kata Roman sambil menunjukkan gambar teodolit kuno yang dipamerkan di sisi gambar peta Junghuhn.

Teodolit adalah sebuah alat ukur yang biasa digunakan untuk mengukur lanskap permukaan bumi. Dalam pembuatan peta topografi, teodolit digunakan dalam rangka membantu menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Teodolit memiliki teropong yang bisa dibidikkan ke segala arah.

Menurut Roman, Junghuhn memanfaatkan teodolit untuk menentukan tiga titik di permukaan tanah yang kemudian membentuk segitiga untuk memastikan arah dan tinggi, utamanya dengan meluruskannya dengan posisi bintang. Pengertian teodolit sendiri adalah instrumen yang dirancang untuk pengukuran sudut horizontal dan vertikal yang juga akan berperan bagi penentuan jarak mendatar dan jarak tegak di antara dua buah titik lapangan.

Ilmuwan naturalis serbabisa -bisa juga disebut universal- ini bahkan mendaki semua gunung yang ada di Pulau Jawa sebagai dasar pembuatan petanya, terutama nilai ketinggian puncak dan dasar gunung.

Berkat ketekunannya ini, Junghuhn dianggap sebagai pelopor seni rupa yang mengilustrasikan sendiri tulisan-tulisannya. Apalagi ilustrasi ini ilmiah, dan bukannya imajinasi seperti yang dikerjakan William Marsden dalam membuat peta Tapanuli.

Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Franz Xaver Augustin, mengutarakan bagaimana Marsden hanya mengimajinasikan lokasi dan kontur alam wilayah yang ia petakan. “Ia mengelilingi sebagian wilayah Sumatera yang ia petakan dengan berlayar, kemudian mengira-ngira lokasi wilayah di dalam petanya.”

Dalam penelitian ini, Junghuhn telah melakukan banyak ekspedisi di Pulau Jawa, misalnya ekspedisi pertamanya pada tahun 1837 untuk menelusuri Jawa Barat; Pelabuhanratu, Priangan, Cirebon. Meneliti gunung-gunung Patuh, Tangkubanperahu, Guntur, Papandayan, Galunggung, dan Ciremai. Tahun 1845, Junghuhn menghabiskan setahun penuh waktunya untuk rangkaian penelitian di Jawa Tengah. Ia tinggal di Salatiga, di Ungaran, dan di Dataran Tinggi Dieng.

Dengan bantuan botanikus Nees von Esenbecks di Jerman, Junghuhn mengirimkan naskah yang disertai gambar kepada Nees Von Esenbeck sehingga terbitlah buku pertamanya Perjalanan Topografi dan Ilmu Alam.

Setelah buku kedua Tanah Batak di Sumatera -Junghuhn juga meneliti sebagian Pulau Sumatera- terbit dalam bahasa Jerman, ia memulai perjalanan terakhirnya ke Tangkubanperahu. Di masa ini, Junghuhn tengah menderita penyakit kronis yang memaksanya kembali ke Eropa demi pemulihan kondisi.

Semasa tujuh tahun istirahat, Junghuhn menyerahkan peran penelitinya kepada peneliti laboratorium di universitas. Ia menjual koleksi lengkap temuannya yang meliputi botanika, geologi, dan palaentologi kepada institusi pendidikan untuk diteliti lebih lanjut. Ia sendiri lebih fokus dalam kegiatannya meneliti dan mengkaji gambarnya, khususnya gambar “lukisan alam”, termasuk mahakaryanya yang membuatnya diingat hingga saat ini, Peta Pulau Jawa.

Diukur dan diteliti sendiri, peta ini kemudian dicitrakan dengan skala yang diperkecil, namun amat akurat. Dengan manual menggunakan tangan tanpa bantuan orang lain, Junghuhn kemudian mempraktikkan teknik grafis sederhana yang memukau, yaitu menggambarkannya dan kemudian mencetaknya di atas sebuah pelat.

”Ia belum menggunakan warna yang sekompleks peta saat ini, tapi arsirannya sudah sesuai dengan zamannya yang memang umum dipakai waktu itu untuk menggambarkan kontur dan ketinggian berbeda sebuah lanskap,” kata Xaver Augustin.

Teknik grafis yang digunakan Junghuhn ini adalah litografi, yaitu teknik cetak yang didasari sifat kimiawi minyak dan air yang tak bisa bercampur. Air yang menolak sifat minyak pada tinta akan membuat tinta hanya menempel pada bagian gambar yang berminyak. Kemudian ditransfer ke atas pelat menggunakan alat pres.

Teknik litografi ini dikenal dengan kemampuannya menangkap gradasi dan detail yang sangat kecil. Pantaslah jika peta pulau Jawa Junghuhn sangat jernih hingga ke goresan tinta yang paling halus, sebagai penegas kontur. Selain itu tentu juga berkat kemampuan menggambarnya yang baik sehingga Junghuhn, secara visual, mampu mendeskripsikan secara rinci keadaan alam yang sebenarnya.

Pada akhirnya ia menghasilkan peta yang sangat spesifik, bahkan sangat mirip dengan penciteraan angkasa NASA terhadap lasnkap Jawa tahun 2007. Peta ini sangat detail, mulai dari ketinggian gunung, kontur-konturnya hingga jumlah penduduk pada saat peta dibuat. Selain peta, Junghuhn membuat diagram profil ketinggian Pulau Jawa, perbandingan antara gunung yang satu dan gunung lainnya -di mana ia mendaki semua puncak gunung-, ia bahkan menyertakan hasil perbandingannya apabila pulau Jawa ditenggelamkan hingga 100 ribu kaki ke dalam laut.

Lahir pada 26 Oktober 1809, Junghuhn -seperti banyak kolega di zamannya- berada dalam bayang-bayang Alexander von Humboldt dan Charles Darwin sehingga ia pun segera terlupakan. Dengan karya besarnya mengenai Jawa, para peneliti generasi berikutnya yakin bahwa Junghuhn dalam banyak hal mengungguli Humboldt.

Thilo Label yang menjadi pembicara dalam simposium Peringatan 200 Tahun Junghuhn di ITB Oktober lalu, mengatakan ambisi estetik Junghuhn terutama sangat dipengaruhi Alexander von Humboldt yang mengedit dan memublikasikan perjalanannya yang

luar biasa di Amerika Latin. Misalnya memperlihatkan pada dunia Eropa mengenai keberadaan dan wujud pohon-pohon hutan hujan, pohon palem, pohon pisang, dan sejenis anggrek yang di abad ke-19 tidak mudah diketahui. Menurut Humbold, organisme ini hanya tumbuh di wilayah tropis.

Junghuhn adalah pengikut Humboldt yang sukses. Dalam buku Java-travel-nya tahun 1845, ia memperlihatkan lagi keajaiban pada dunia Eropa. Yaitu gambar spesifik peta

litografi Pulau Jawa, potret gunung berapi, dan banyak sketsa dari pemandangan khusus yang dideskripsikan dalam buku teksnya.

“Anda bisa melihat seluruh gambarnya di database-koleksi yang saya instal di Berlin Humboldt-University setahun lalu,” kata Thilo Habel dalam emailnya seraya memberikan alamat situs http://www.sammlungen.hu-berlin.de/search/?q=junghuhn.

Sketsa-sketsa itu, menurut Thilo, tidak digambar kembali oleh seniman khusus, namunmurni di-copy dari catatan Junghuhn. Kecanggihan teknik artistik dan estetiknya dibuktikan lagi ketika pada edisi Jerman perjalanan Jawa Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart, ia memperlihatkan hasil karya wood engraving yang tekniknya agak berbeda -menggunakan mata pisau yang bergerigi- dibandingkan dengan cukil kayu.

Pada akhirnya, Humboldt pun menyampaikan pujiannya kepada Junghuhn; ”Betapa besar terima kasih saya kepada Anda atas peta yang indah, sungguh geologis, beraneka ragam bentuk. Lebih dari sebuah makan malam, Raja, Pangeran Friedrich dari Belanda, Menteri Peperangan, dan banyak jenderal mengagumi peta ini sebagai sebuah karya yang sangat luar biasa,” katanya di Berlin pada 20 April 1857.

“Ia merupakan orang pertama yang membuat peta dengan dasar ilmiah dan membawakan seni dalam pembuatan peta. Keahliannya ini juga dipakai dalam mengenali spot yang tepat untuk penanaman kina,” kata Direktur Erasmus Huis Paul J.A.M. Peters yang menyambut baik inisiasi Goethe-Institute untuk mengadakan pameran memperingati Junghuhn dan hasil karyanya tersebut.

Dalam pameran ini hadir pula Duta Besar Belanda di Indonesia Nikolaos van Dam, Duta Besar Jerman di Indonesia Norbert Baas, dan pembicara Cor Passchier. Dalam seminar tersebut, diungkapkan sedikit riwayat hidup Junghuhn yang terbilang sebagai seorang jenius-nyeleneh sehingga kerap ditentang berbagai kalangan, dan sempat dipenjarakan hingga ia mesti berpura-pura gila untuk bisa bebas kembali.

Meski begitu, tak bisa diingkari bahwa ia seorang yang berjasa. Junghuhn bahkan diakui sebagai pengguna fotografi ilmiah pertama. Ilmuwan alam ini memanfaatkan peralatan fotografi secara tepat dalam pekerjaannya. Ia menggunakan seperangkat alat fotografi, seperti obyektif ganda, tripod, dan perlengkapan tambahan lainnya, seperti bahan kimia dan kertas foto. Bukan pekerjaan mudah membawa alat fotografi kuno yang besar dan berat mendaki gunung-gunung dan menjelajahi tiap inci Pulau Jawa untuk mengukur dan meneliti.

Kekerasan hati dan usahanya inilah yang menjadikannya berbeda dan unik selayaknya seniman. Oleh tokoh lain, E,M, Beekman pada tahun 1996, Junghuhn diberi predikat seniman artistik; ”Meski bekerja secara empiris dan analitis, namun penggambarannya mengenai alam lebih bersifat subyektif daripada obyektif, lebih bersifat artistik ketimbang teknis. Tapi bukan berarti ia tidak eksak, sebab pada seorang pencinta pun terdapat presisi seperti halnya di laboratorium.”

Syifa Amori

(dimuat di Jurnal Nasional)

Provokasi Perupa Untuk Provokasi Publik


Pameran Up & Hope mencoba menguak secercah harapan mengenai dunia seni rupa yang terus berupaya membangun dirinya


Dunia seni rupa yang “hidup” dan selalu dinamis berupaya mengembangkan kondisinya adalah idaman para seniman yang juga dirindukan publik.


Kekondusifan dalam dunia seni rupa diharapkan bisa menciptakan ruang ideal bagi ajang komunikasi antarpelaku seni, penikmat seni, serta masukan positif bagi masyarakat umum dalam menyikapi berbagai fenomena sosial.


Kondusivitas yang dimaksud tentu membutuhkan dukungan berbagai pihak yang menyokongnya. Makanya kemudian perlu ada kesadaran tiap elemen untuk mewujudkannya, termasuk dari para kurator seni untuk memprovokasinya. Seperti yang digagas Dosen Fakultas Seni Rupa dan Pascasarjana ISI Yogyakarta Suwarno Wisetrotomo dalam mengkurasi pameran Up & Hope di D’Peak Art Space, Jakarta Selatan.


Pameran yang menghadirkan lebih dari 129 seniman dengan lebih dari 187 karya ini, menurut Suwarno adalah salah satu bentuk upaya realisasi penyediaan “event yang baik”. “Tugas seorang kurator dalam memprovokasi seniman harus ditopang adanya event yang baik yang akan menantang para seniman untuk berkarya. Yaitu event seni rupa dengan muatan ide yang kuat, tempat yang representatif, kurator yang memahami wacana, promosi yang baik, dukungan institusi, serta media,” kata Suwarno.


Jika event yang baik menjadi salah satu kunci pendukung, maka faktor perupanya sendiri tentu lebih harus dipersuasi demi memaksimalkan peranannya. Dalam pengantar kurasinya, Suwarno mengungkapkan bahwa ada empat hal yang harus dijaga, dikembangkan, dan diperkokoh, terkait dengan upaya “memerankan diri” secara maksimal.


Dimensi pertama adalah dimensi kreativitas dengan “daya ganggu” yang merangsang pemikiran. Dimensi wacana yang terkait aspek kepiawaian mengartikulasikan gagasan untuk merangsang dialog kritis. Dimensi karakter atau ideologi untuk menghadirkan diri dengan penampilan (luar-dalam) yang meyakinkan. Kemudian dimensi ekonomi yang terkait dengan aspek pengetahuan dan keterampilan manajemen dalam mengkreasi peristiwa kesenian dengan perspektif kebudayaan yang memiliki keuntungan ekonomi.


Keempat dimensi ini dianggap esensial demi menjaga harapan akan optimisme dunia seni rupa Indonesia ditengah kemuraman situasi, termasuk juga di dalamnya permasalahan krisis ekonomi, politik, dan sosial. Mungkin juga karena semangat optimisme ini, maka beberapa karya menampilkan visual dalam perwujudan patriotisme serta kondisi politik dalam konteks kebangsaan hingga kelihatannya ada keterkaitan tema Up & Hope dalam konteks kemerdekaan RI, meski sebenarnya tidak secara langsung. Misalnya saja lukisan yang menggambarkan untaian bulu burung merak sebagai latar siluet wajah tokoh nasional Soekarno karya Edo Pillu atau juga lukisan Alex Luthfi R., The Winner, Before and After, yang menggambarkan situasi politisi yang selalu menggunakan topeng dalam rangka memenangkan kedudukan politik incarannya.


Kelonggaran tema yang bisa secara bebas dipersepsikan dan direinterpretasikan -karena kurator dan co-kurator memilih pendekatan personal pada seniman untuk secara tidak terikat melakukan eksekusi karyanya sendiri- menjadikan agak sulit untuk mendefinisikan tema Up & Hope yang mengerucut. Apalagi jika mesti menimbang dari ratusan lebih karya pamer di galeri tiga lantai yang diresmikan berbarengan dengan pembukaan pameran Up & Hope, Sabtu malam (8/8).


Pengunjung pameran akan disuguhi karya dengan begi kecenderungan gaya artistik dan teknis yang berbeda. Bahkan ada beberapa karya instalasi terbilang tidak secara eksplisit terkorelasi dengan tema, seperti Anak Api-nya Haris Purnomo berupa bayi fiber dengan warna api, serangga sophisticated mirip laba-laba raksasa yang terbuat dari metal karya Lutse Lambert Daniel Morin berjudul Garanggawati Hemas, atau juga lukisan akrilik Tiarma Sirair berjudul Pink,s Pose yang memperlihatkan seorang gadis trendi dalam balutan fashion kekinian berwarna merah muda (termasuk payung dan sun glasses-nya) sedang berpose bak model di depan situs bersejarah China yang diwarnai hitam putih monokrom.


Meski begitu, kerangka yang fleksibel sebenarnya justru membantu pengunjung untuk memaknai tiap karya sebagai bagian dari penciteraan tema Up & Hope, baik dari sisi konten visual maupun penggalian idenya sendiri. Dengan begitu, sebenarnya kehadiran karya para seniman lintas generasi ini sebenarnya sudah merefleksikan konsep dari optimisme sebagai bagian dari harapan.


Co-kurator Kuss Indarto melihat bahwa justru kecenderungan yang telah biasa dibuat oleh seniman peserta itulah yang mendorong tema Up & Hope ini untuk kemudian diletakkan, didalami, dan bisa disubversi. Menurut Kuss sebagai salah satu kurator, dirinya memiliki banyak ekspektasi terhadap para perupa untuk mampu memberi pengayaan atas gagasan kuratorial ini dalam pengaplikasiannya secara visual.


“Atas rentetan karya yang terpajang dalam pameran ini, publik -setidaknya saya secara pribadi- masih tetap berasumsi kuat bahwa para seniman ini tidak sekadar memposisikan dirinya sebagai homo aestheticus yang “sekadar” menggapai-gapai tangannya dalam kerangka kreatif atau estetik. Namun juga berpotensi sebagai homo socius atau makhluk sosial yang berkemungkinan untuk membaca tanda-tanda zaman yang berkelebat di ruang sosial yang bisa jadi berada di seberang lingkup disiplin dirinya sebagai seniman,” kata dalam pengantar pada pameran ini.


Selaras dengan pernyatan Kuss, seniman dan budayawan yang turut berpameran Tisna Sanjaya sadar bahwa konteks Up & Hope tak boleh berhenti pada permintaan galeri di tingkat pameran yang menurutnya “simbolis”.

“Tema Berfikir Dengan Dengkul adalah tema yang sudah saya eksplorasi sejak tahun 80-an, tapi ada pendalaman tema yang saya gali lebih jauh di sini sehingga tetap kontekstual, seperti krisis pola pikir dan sikap hidup sehingga masih ada kekerasan seperti bom, kekerasan sistematis yang merusak lingkungan hidup, kekerasan kapital seperti pasar bebas yang menekan masyarakat kecil. Pokoknya potret manusia yang berfikir dengan dengkul untuk kepentingan pribadinya” kata Tisna.


Tisna melihat bahwa seniman -yang selalu berujung pada karya seni- harus bisa memberi harapan dan dorongan kepada masyarakat luas. Berawal dari harapan di dunia seni rupa, ada optimisme bahwa kondusivitas ini pada akhirnya berimbas juga pada kehidupan berkebangsaan. Mengapa tidak?

Syifa Amori

(Dimuat di Jurnal Nasional)