Jumat, 02 April 2010

Mengisi Ruang, Memaknai Bayang


Sebuah tawaran untuk kembali merenungi tentang makna ruang dan bayang


Ruangan galeri Salihara kosong pagi itu, Senin (16/3). Belum ada pengunjung yang datang rupanya. Suasana jadi terasa sangat berbeda ketika menikmati karya pameran sendirian saja karena ketiadaan teman berdiskusi.


Bagaimanapun, di tengah-tengah kelengangan dan keheningan itu, justru penggalian makna atas sebuah karya bisa saja tergali lebih dalam. Suasana ruang yang lengang memang kondusif buat perenungan dan pencarian akan sebuah esensi.


Tak berbeda dengan apa yang dikemukakan Hanafi, seniman yang memamerkan karyanya dalam Pameran Tunggal Tentang Ruang dan Bayang di Galeri tersebut. Hanafi, saat dihubungi Jurnal Nasional, mengungkapkan bahwa kelengangan dibutuhkan untuk melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Hal ini ia sampaikan dalam menanggapi pengantar dari salah satu kurator pamerannya Hasif Amini.


Di dinding pintu masuk ruang pameran, Hasif Amini menuliskan, “Gerak. Kecepatan, kesibukan, hiruk-pikuk, itulah sederet penanda kehidupan urban yang tak jauh dari keseharian Hanafi. Namun, dari tahun ke tahun, tampak sebuah kecenderungan dalam karya dia yang kian mengarah kepada kesunyian dan kelengangan.”


Hanafi tidak menolak ini, meski menurutnya bisa saja subjektif. Tapi yang penting, kelengangan dalam karya-karya Hanafi adalah sebuah upaya untuk menjelaskan. Kelengangan adalah untuk memaksimalkan esensi dan bukannya untuk meminimalisir bentuk.


Ada belasan karya lukis yang dipamerkan Hanafi dalam Ruang dan Bayang. Kesemuanya dilukiskan dalam bidang yang lebar dan tanpa diberi judul. Jadi tentu makin sulit menfasirkan apakah itu menyangkut ruang atau bayang, ataukah keduanya.


Salah satu yang menarik adalah adanya kanvas-kanvas kecil yang disusun menjadi sebuah bidang besar memenuhi permukaan dinding dengan torehan warna kelabu yang bertuliskan nama-nama Arab, tanggal, serta tahun. Seperti efek gradasi, Hanafi melengkapi kanvas-kanvas kecil itu dengan warna abu-abu, hitam, hingga putih karena sama sekali tak digambari.


Nama-nama Arab ini memperlihatkan sensitivitas Hanafi atas fenomena yang terjadi dalam kenyataan, yaitu perang di Palestina. Karenanya, karya ini mengingatkan (karena serupa) dengan nisan pada makam seseorang. Adapun kaitannya dengan ruang dan bayang, Hanafi lebih suka membebaskan penikmatnya untuk mempersepsikannya. Yang pasti, buat senimannya sendiri makna dan eksplorasinya bersifat pribadi.


“Sebetulnya, dalam karya apa pun, bagi saya self memory itu bisa memberi andil besar dimana pekerjaan itu akan dikontekskan. Apakah masa silam, masa depan, atau masa kini. Itu tergantung dari cara kita melihat. Dalam artian, cara yang kita pakai dari sejak lama. Bagaimana sebuah kejadian memberi impact pada kita,” kata Hanafi.


Menurut seniman kelahiran Purworejo, 5 Juli 1960 ini, kegelisahan dalam karya-karya Ruang dan Bayang pun mirip-mirip. Tidak akan jauh dari bagaimana cara dia memerangi persoalan. “Bahkan dalam pekerjaan-pekerjaan seni rupa saya, sebenarnya adalah cerminan bagaimana saat menghadapi kehidupan ini sendiri. Mana yang akan saya dahulukan dan mana yang kemudian saya anggap cukup. Jadi semua tercermin dari bagaimana saya menghadapi hidup. Menghadap kegagalan atau menghadap keberhasilan.”


Jim Supangkat, yang beberapa kali pernah “memegang” pameran Hanafi juga mengungkapkan bahwa Hanafi adalah seniman yang sangat terikat pada pengalaman personal. “Selain itu, karena dia berhubungan dengan seni rupa sejak kecil, kepekaan dan penguasaan bahasa artistiknya sangat baik.”


Meski karya instlasi yang dipamerkan tidak sebanyak karya lukis, namun tetap menarik perhatian. Patung putih yang berjongkok dalam sebuah bidang hitam terbuka sambil merentangkan meteran di pojok ruang pameran, sangat mampu mendeskripsikan keinginan senimannya untuk mengukur bayang. Tapi bayang yang mana? Apakah bayang seperti kenangan atau hal yang muncul dalam pikiran atau bayang yang dalam ilmu pengetahuan alam terjadi ketika cahaya terhalang sesuatu? Dan untuk apa?


“Di diri saya ini, diri anda, dan diri orang lain, selalu ada bayangan yang setia pada kita. Saya mengukur kesetiaan saya. Mengukur diri ini adalah sebagai kewaspadaan. Orang Jawa bilang tepo seliro, mbok bercermin diri dulu. Saya tidak akan pernah melampaui batasan diri. Tapi batasan kan banyak, jadi yang tahu diri kita sendiri. Kalau pun orang bilang dia tahu kemampuan kita, itu hanya perkiraan.”


Selain patung dan meteran, ada pula 7 patung bertelanjang dada yang meringkuk di lantai dengan wajah ditutupi sehelai kain kecil. Entah bagaimana mendeskripsikannya, namun kesan yang didapat setelah melihat patung-patung ini mengingatkan pada saat-saat paling pribadi dalam hidup seseorang. Dimana saat berbaring dan mata tertutup, maka muncullah bayang akan segala sesuatu yang telah berlalu atau yang mungkin akan terjadi.


Baik seni lukis maupun instalasinya, diselesaikan Hanafi dalam waktu 2 sampai 3 bulan. Karya yang dipajang disesuaikan kapasitas ruangan yang tidak mencukupi jumlah seluruh karya Hanafi yang dibuat dengan tema Ruang dan Bayang ini. Hanafi bisa menyelesaikannya dalam waktu relatif singkat karena ia memilih untuk berkerja intensif. Pertimbangannya bukan soal cepat saja, tapi karena menurut Hanafi, ada semacam kausalisme yang tidak mungkin dipecah oleh suatu hal yang lain.


Pameran Tunggal Ruang dan Bayang dikuratori oleh empat orang Nono Anwar Makarim,

Enin Supriyanto, Goenawan Mohammad, dan Hasif Amini. Keempatnya mendekati karya Hanafi dalam Ruang dan Bayang dari 4 angle yang berbeda. Mulai dari proses, kosteks kesenirupaannya di ranah seni rupa Indonesia, hingga perjalanan Hanafi sebagai seorang perupa yang telah lama berkiprah.


Karenanya, mengunjungi pameran ini jadi tambah menarik. Selain seolah mendapat guidance tentang latar belakang pilihan tema dan perenungan Hanafi dari para kurator, suasana ruang galeri yang dikondisikan Hanafi sedemikian rupa juga mendukung proses seseorang dalam menghadirkan kembali bayang-bayang yang sesekali dilupakannya.


Syifa Amori

(dimuat di Jurnal Nasional)

Tidak ada komentar: