Jumat, 02 April 2010

Terobosan Ide Yang Tersempurnakan


Patung realis dalam pameran Punching The Devil meramu pencitraan Dewa, manusia, dan iblis dengan proporsional


Seperti pada prinsip permainan lego, seniman Australia Rodney Glick mengaplikasikan konsep “bongkar-pasang” dengan membongkar bagian tubuh dan atribut yang ada pada dewa, kemudian memasangkannya pada figur manusia sehingga menghadirkan ekspresi dan pemaknaan yang baru. Juga mengundang respon; pertanyaan, ketergangguan, hingga rasa tergelitik mengenai wujud yang absurd, aneh, dan agak mistik –kalau tak mau disebut horor.


Rodney Glick sepertinya memang agak terobsesi dengan perwujudan klasik Dewa-Dewi dalam kepercayaan umat Hindu. Seperti yang dikatakan Chriss Hill dalam pengantar kurasinya: “Glick terinspirasi lukisan Hindu India dari abad ke-18 dan 19.”


Untuk mencapai hasil jadi karyanya, ia mengkoreografi gerak model (semuanya orang Australia) untuk mencapai sebuah figur Dewa dengan pose tertentu yang sudah ia skenariokan. Tidak berhenti pada meniru image Dewa dan Dewi, Glick mengeksplorasi lebih lanjut sehingga koreografi dalam foto akhirnya berwujudkan “makhluk” aneh baru dengan kecenderungan karakter fisik dan sifat yang ganjil; perpaduan sikap suci Dewa, keteledoran dan ketulusan manusia, dan hasrat iblis yang destruktif.


Pada foto yang sudah didesain dengan gubahan digital menjadi gambar utuh yang ganjil ini, Glick cenderung memperlihatkan nuansa sarkastis, semacam adegan saling bunuh ala film Kill Bill yang menggabungkan efek canggih dengan sadis.Di sisi lain, pose-pose lucu dalam foto yang mencerminkan proses pasca produksi pemahatan mengundang rasa geli yang memperlihatkan adanya sedikit humor sang seniman ketika mengonsepkan karya.


Misalnya seorang nenek berkebangsaan Australia yang difoto dengan pose tertentu –mengangkat kedua tangan dan menekuk kaki. Kemudian juga pose sepasang laki-laki perempuan yang berdiri berhadapan dengan tubuh saling menempel.


Dalam edit-an digitalnya, sepasang model ini lalu dihorizontalkan sehingga kelihatan saling tindih dengan tubuh si perempuan di bagian atas yang menjadi pijakan sesosok tubuh perempuan lain tanpa kepala dengan tangan menggenggam kepalanya sendiri dan tangan lainnya memegang sebilah pisau daging besar. Dari leher sosok tanpa kepala inilah digambarkan (dengan cropping yang kasar) muncratan darah yang jadi sumber air minum dua laki-laki lainnya.


“Mungkin ini tampak “berdarah-darah”, namun saya ingin memperlihatkan adanya makna yang lebih dalam dari sekedar penampilan mencengangkan ini, yaitu adanya tema besar dalam segi manusiawi, seperti cinta, kesedihan, dan kelahiran kembali.” ujar Glick dalam pengantar pembukaan pamerannya.


Memang seolah membuat mual, namun ada sentuhan tertentu dari gubahan digital Glick yang membuat foto ini menjadi sangat komikal dan seolah mirip candaan. Atau mungkin juga karena foto-foto ini ibarat “pemanasan” bagi pengunjung sebelum melihat karya lain yang lebih solid dan “jadi”. Yaitu pahatan patung-patung realis yang mewujudkan koreografi dalam foto dalam sebuah replika kecil yang sangat menduplikat.


“Banyak orang terlibat dalam karya saya. Mulai dari model dan juga seniman-seniman Bali yang bekerjasama merealisasikan konsep saya dalam wujud patung. Sejak zaman sebelum Renaissance, banyak seniman seperti Rueben, Leonardo, dan yang lainnya telah mengkonstruksi ide untuk kemudian dikerjakan timnya. Kerjasama seperti ini juga umum dalam masyarakat kontemporer karena karya dan imajinasi kita tidak bisa dibatasi satu studio saja,” kata Glick.


Foto-foto tersebut memang kemudian menjadi bahan “mentah” bagi seniman pahat Made Leno, pelukis Wayan Darmadi (Bona Kelod) dan Dewa Tirtayasa (Abianbase).


“Pemahat dan para pelukis Bali ini menciptakan patung-patung dalam seri ini, dengan arahan dari Glick sebagai pengambil keputusan artistik,” kata Chris Hill yang memuji kepiawaian teknis para seniman Bali tersebut. Menurutnya, Punching The Devil akan membuat orang memulai kekagumannya pada keahlian artistik dan estetika pemahat dan pelukis yang terlibat dalam pameran ini. Meski begitu Hill yakin bahwa dalam semua bidang seni, ide yang ditampilkan karya seni tetap penting.


Dalam pameran seni rupa yang dibuka hari Jumat (4/12) dan berlangsung hingga Sabtu (19/12) ini, Glick kelihatan seperti bermain-main –bukan mempermainkan- dengan konsep spiritual yang terdefinisi dalam kemanusiawian. Manusia-manusia, dengan penampilan khas kaum perkotaan modern ini dimasukkan dalam konteks ide Glick yang bisa dibilang berdampak terobosan pada penyadaran sifat dasar manusia.


“Pahatan patung memainkan peranan sebagai gabungan dari hal yang kuno dan yang modern, religius dan sekuler, Timur dan Barat. Pemeluk agama yang bukan Hindu, mungkin akan kaget mengetahui bahwa Dewa-Dewi Hindu yang penuh dengan kesucian dan keagungan, juga bisa memanifestasikan diri sebagai suatu ketakutan, keraguan dan sebagainya, seperti halnya karakter seorang manusia. Dan sebagaimana para Dewa juga mengalami kelemahan manusia, sebaliknya kita juga merasakan keagungan-Nya. Itulah yang mendasari perkembangan karya Everyone Glick,” kata Hill.


Ide ini dengan tanpa rintangan sepertinya berhasil ditransferkan kepada pengunjung, utamanya tentu berkat karya trimatra yang sangat hidup dalam serial Everyone. Pahatan realis ini dibuat dengan sangat apik, detail, dan presisi. Bahkan, material dasar kayu-nya tak bisa dikenali lagi karena bentukan tubuh manusia (lengkap dengan rambut, pakaian, dan atributnya) yang lentur tak bersudut. Begitu pun saat dia bergerak, kelihatan seolah sangat fleksibel. Baik segi tekstur dan pewarnaan patung, kecanggihan teknisnya sangat terasa.


Misalnya patung nenek dengan empat tangan yang sedang menggerakkan tangan dengan bebas. Meski ukurannya miniatur, namun kerut di wajah dan lekuk serta lipatan pakaiannya sangat nyata. Meski keputusan artistik ada pada Glick, tentu pemahat Made Leno juga secara total menumpahkan segenap perasaan dan imajinya untuk menghasilkan realisme yang begitu jitu.


Apalagi kebanyakan figur yang dibuatnya bukan wujud manusia biasa, melainkan manifestasi Dewa dengan segala keluarbiasaannya, seperti perempuan yang menyerupai Dewi Durga (Dewi cantik dengan banyak tangan yang masing-masing memegang senjata seperti cakram, petir, teratai, ular, pedang, gada, terompet, kerang, dan trisula). Dalam karya Glick, si perempuan cantik ini bertangan empat dan masing-masing menggenggam pisau panjang, pisau daging yang berlumur darah, kepala seorang laki-laki, dan semangkuk penuh darah.


Durga sebagai Dewi yang mengendarai harimau diwujudkan juga dalam bentuk laki-laki setengah baya (dengan lidah menjulur sedikit) yang duduk diatas panggung sapi dengan delapan tangan yang keempat tangan kanannya memegang pedang merah dan kesemua tangan kirinya memegang boneka laki-laki tanpa pakaian. Meski nyeleneh, absurd, dan horor, namun kepiawaian menyempurnakan detail karya trimatra Made Leno mampu berperan sebagai ”bingkai” agar ide Glick tidak liar dan meluas kemana-mana. Berkat teknis pemahat dan juga pelukislah maka keabsurdan karya Glick kemudian semakin mendapat ruang untuk diperbincangkan.


”Karya laki-laki diatas sapi inilah yang paling sulit secara teknis,” kata Made Leno saat diwawancarai. Seniman yang punya studio sendiri di daerah Gianyar Bali ini membutuhkan waktu selama setahun untuk mengerjakan desain-desain Glick untuk kemudian dipahat. Made Leno, yang telah bekerjasama dengan Glick dalam seri patung sebelumnya, membuat 5 buah karya ini. Ia adalah pemahat generasi ketiga dari desa Kemenuh, sebelah selatan Ubud, yang belajar mematung sejak kecil dari ayahnya, dan juga belajar secara formal di sekolah seni.


”Saya mengenakan skala dan melakukan berbagai eksperimen untuk mencari bentuk yang paling mirip dan sesuai dengan karakter objek. Untuk patung, saya menggunakan kayu suar, namun untuk membentuk objek lain yang unik harus eksplorasi lebih jauh. Seperti darah yang mengucur dan muncrat seperti air terjun, tentu tidak bisa material yang kaku dan tidak bisa juga yang mudah patah, maka saya menggunakan rotan. Jadi saya banyak belajar dengan teknik kerja yang baru ini,” kata Made yang mewujudkan gambar yang dibuat Glick dalam bentuk patung secara akurat dan terperinci.


Glick juga bekerja dengan dua pelukis muda, Wayan Darmadi dan Dewa Tirtayasa yang sama-sama jebolan sekolah seni, namun kuat pada teknik melukis tradisional yang menekankan pada ketelitian, akurasi dan detail.


Meski pun yang berusaha ditekankan Glick dalam pameran ini bukanlah kemuraman dan nuansa ritual penyembahan iblis, namun pengeksplorasiannya atas darah sebagai simbol kegelapan dan hal lainnya yang berbau film horor ala Barat (seperti menggenggam kepala sendiri) mau tak mau menggiring pengunjung ke dalam atmosfer yang agak sedikit bikin bergidik.


Nuansa positivitas soal kesetiaan dan kelahiran kembali, seperti yang diperlihatkan patung sepasang kekasih yang terselubung lotus. Menurut Hill, patung ini terispirasi lukisan India kuno tentang Krishna dan istrinya Radha. ”Walau tanpa mengetahui latar belakang karya ini, kita mungkin dapat melihat hasil karyanya sebagai perwujudan cinta dan keajaiban, emosi-emosi apa yang disembunyikan oleh sepasang kekasih.” Bunga lotus sendiri memang dipercayai sebagai simbol kebebasan.


Namun kecerahan ini, sepertinya kalah dominan dibandingkan kesan iblis dan satanik dalam pameran yang judulnya saja Punching The Devil. Kesan ini diperkuat dengan karya-karya foto hitam putih yang dikondisikan kuno dan mistik, karena kesemua objek dalam fotonya kehilangan wajah (baik karena lembar foto yang bolong terbakar di bagian itu atau karena kerusakan teknis pencetakan foto, atau sekedar gangguan kilatan cahaya saat pengambilan foto). Efek menakutkan dari foto-foto macam ini seringkali dipertunjukkan pada film-film horor (khususnya Barat, seperti misalnya Skeleton Key) yang umumnya melibatkan rumah tua dan sejarah kelam sebuah tempat.


Glick sendiri mewacanai rangkaian karya foto Defaced ini dengan sesuatu yang logis dan agak filosofis –jauh dari kesan seram. Yaitu bahwa ia semacam melakukan ”penghapusan” ikatan dan memori orang yang berada di dalam foto.


Ia mengambil foto keluarga dan membuat guratan untuk menghilangkan bagian wajah semua objeknya sehingga mereka tampak ”terapung-apung” dalam kondisi tanpa identitas, dan tidak memiliki keterkaitan apa-apa satu sama lain. Hubungan mereka dengan yang memandang foto pun tercerabut sehingga mereka tak dikenali, menjadi individual, namun representatif terhadap siapapun. Tindakan Glick ini membebaskan imajinasi untuk menebak dan membuat cerita yang baru (John Barrett-Lennard, dikutip dari katalog pameran God Favoured di galeri seni Lawrence Wilson, University of Western Australia)


Renungan yang mendalam ini pada akhirnya menghadirkan dua fokus berbeda dalam pameran. Sehingga agak sedikit bias soal apa yang ingin dicapai oleh Glick. Meski begitu, sepertinya Glick sadar bahwa ada satu hal yang menyatukan dua pergulatan ide ini, yaitu warna mistik dan horor yang dihasilkannya. Makanya ia kemudian membingkainya menjadi satu tema; Punching The Devil.


Syifa Amori

(Dimuat di Jurnal Nasional)

Tidak ada komentar: