Jumat, 02 April 2010

Pencarian Kepahlawanan Lewat Komik




Genre komik dalam seni rupa patut diperhitungkan karena kemampuannya memuat tema yang substansial dengan daya tarik tersendiri


Setelah selama 12 tahun dari SD hingga SMP, bahkan SMA, murid sekolah di Indonesia dihadapkan pada sosok-sosok pahlawan yang berkorban demi tanah air dalam buku pelajaran Sejarah mereka. Kini, mahasiswa Harvard Mark Zuckerberg yang menemukan dan membuat facebook mendadak juga dirasa bagai pahlawan. Berkat penemuannya, interaksi sosial dan komunikasi lintas benua dapat dilakukan dengan mudah. Meski tidak mengorbankan nyawa dan tidak dapat gelar, Zuckerberg telah membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak dan menjadi pahlawan bagi para peselancar di dunia maya.


Pergeseran sistem sosial budaya inilah yang dikatakan kurator seni rupa Kuss Indarto telah terjadi akibat pengaruh pesatnya perkembangan teknologi informasi. Ini, kata Kuss, berimplikasi pada pengenduran identitas yang khas pada suatu kelompok hingga pada cairnya identifikasi atas sebutan hero.


Dalam mempertanyakan dan memaknai kembali konsep kepahlawanan yang semakin meluas ini, Mon D├ęcor Galeri bersama Kuss Indarto menyelenggarakan Pameran Seni Rupa HERO-IS-ME. Pameran yang berlangsung hingga Sabtu (4/4) mendatang ini diikuti enam seniman (Andi Wahono, Aji Yudalaga, Donny Kurniawan, Indieguerillas, Pandu Mahendra, and Yudi Sulistya) yang mempresentasikan kembali beragam konsep kepahlawanan mereka dalam karya-karyanya. Termasuk cara pandang terhadap kepahlawanan dalam konteks perorangan.


Para perupa berusaha mengembalikan problem kepahlawanan kepada dirinya sendiri. Memang, tidak semua perupa mengarah pada asumsi tersebut secara banal dan transparan secara visual. Namun kita bisa menyimak titik menarik itu pada karya-karya Donny Kurniawan dan Pandu Mahendra. Kedua seniman ini kiranya tidak tengah membangun egosentrisme yang berlebihan dengan mempahlawankan diri-sendiri, namun bagai berusaha menciptakan pertanyaan ihwal keberadaan dan nilai kepahlawanan itu sendiri,” kata Kuss dalam pengantar kuratorial pameran HERO-IS-ME ini.


Pesan dan pemaknaan terhadap kepahlawanan jelas tersampaikan dalam pameran ini. Mulai dari karya Andi Wahono yang condong pada aksi kepahlawanan pada sebuah pertempuran dengan setting masa lalu, karya Yudi Sulistyo yang memperlihatkan perjuangan tentara di medan perang, hingga karya Indieguerillas yang memperlihatkan bentuk kepahlawanan era westernisasi yang sukses menggilas “pahlawan-pahlawan” lokal pada karya There goes My heroes Watch’em as They Goes.


Dalam There goes My heroes Watch’em as They Goes, Indieguerillas (Miko Bawono dan Santi Ariestyowanti) menggambarkan wajah Kolonel Harland Sanders yang sudah jadi logo Kentucky Fried Chicken bersama 2 orang superhero Amerika yang seperti akan menyantap tokoh wayang kulit punakawan (semar dan teman-temannya) selayaknya permen lollypop.


Ada pula karya Pandu Mahendra yang melukiskan aksi penyelamatan dari ancaman seorang anak oleh seorang pemuda masa kini yang dijuduli Panjang Taringku dan Malam diantara 9 Bintang. Yang juga tak kalah menarik adalah karya Kasih Tak Sampai-nya karya Donny Kurniawan. Mungkin saja, Donny yang juga menggambar komik yang diproduksi dan diterbitkan di Amerika Serikat ini ingin menceritakan perihal keberadaan pejuang cinta. Pahlawan yang tetap tegar meski impiannya tak kesampaian. Apalagi skisi kepahlawanan tentunya ada di diri setiap orang.


Kuss sendiri memilih komik dalam memediasi tema besar kepahlawanan untuk melawan mainstream seni rupa yang sedang mengikuti tren seni lukis China. Baginya, akan lebih baik untuk membuka jalan bagi para seniman yang belum masuk dalam pemetaan seni rupa Indonesia, termasuk pasarnya, yang tidak turut terbawa pola visual China yang sedang “mewabah”. “Kalau pun dikatakan bahwa pasar seni rupa sedang condong pada karya grafis atau pop-art, HERO-IS-ME sendiri lebih menekankan aspek komiknya bukan unsur graffity-nya. Dan kebanyakan mereka berangkat dari latar komik, bukan dari pop-art.”


Upaya Kuss untuk mengangkat komik sebagai mediator tampaknya berhasil. Pesan kepahlawanannya sangat kental mewarnai nuansa pameran HERO-IS-ME ini. Juga karena komiklah, lalu karya lebih mampu bercerita banyak. Paling tidak mengenai suatu adegan atau kejadian.


Meski begitu eksplorasi teknis dalam menggambar diatas kanvas jauh lebih dalam dibandingkan pada komik strip. Hal ini diakui Abdi Wahono, “Hanya menggambar komik strip rasanya nggak puas, makanya saya pindah ke kanvas walaupun teknis pengerjaan yang saya tempuh bisa dikatakan jauh lebih panjang dibanding pelukis biasanya,” kata Andi yang mengaku bisa mencapai sebulan lamanya untuk membuat satu karya saja.


“Saya menikmati proses pengerjaan ini. Makanya saya tidak mempermasalahkan waktu dan tidak terburu-buru ingin cepat selesai.” Andi mengawali karyanya dengan membuat sketsa dengan pensil diatas kanvas yang disusul sketsa tinta China dan pewarnaan awal dengan teknis cat air yang mengharuskan adanya sinar matahari demi membantu prose pengeringan.


Setelah kering, Andi harus meraba kembali sketsa yang sudah tertutup warna untuk diberi sisi gelap dan juga pengerokan untuk sisi terang. Setelah selesai barulah dilakukan pewarnaan kembali yang dilanjutkan finishing penekanan sisi gelap dan terang.


Karya Andi memiliki karakter yang sangat kuat dan khas. Unsur pewarnaan monokrom yang dipilihnya (cokelat hingga emas) memberikan kesan agung sekaligus agak sedih. Dan objek-objek dalam lukisannya juga punya karakter sendiri, seperti tokoh manusia seperempat dewa seperempat robot seperempat wayang yang sedang bergulat di dalam sebuah pertempuran besar. Dan sebagian besar tokoh berperang ini juga diwakili sosok perempuan tangguh.


Dengan kecenderungan tema peperangan, Andi masih memasukkan unsure personal seperti yang diperlihatkannya dalam Hero of The Day (Alone) yang menggambarkan sesosok tokoh diatas kuda perangnya tengah memetik alat musik dan meyiratkan rasa kesepian (mungkin setelah memenangkan peperangan yang akhirnya tidak menyisakan siapa-siapa.


Unsur personal juga kelihatan dalam karya-karya Yudi Sulistyo berjudul The Soul Behind the Gun dan juga karya yang menggambarkan tentara yang sedang meneteskan airmata. Dengan caranya sendiri, muatan gagasan dalam lukisan komik mampu menyampaikan pesan-pesan yang cukup berat yang ada didalam konsep kepahlawanan. Yaitu bahwa kepahlawan yang tak melulu terkait aksi heroik, tapi juga kemanusiaan, perasaan pribadi, keseharian yang sederhana (seperti dalam karya-karya Aji Yudalaga), budaya, dan banyak unsur kehidupan lainnya. Mudah-mudahan saja, pameran ini bisa menimbulkan kembali kepahlawanan dan penghargaan terhadap kepahlawanan sekaligus juga menguatkan posisi komik dalam pemetaan seni rupa.

Syifa Amori

(dimuat di Jurnal Nasional)

Tidak ada komentar: